Ketika Ku Bersujud

Ketika Ku Bersujud

  • WpView
    Reads 93
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 24, 2020
WpInfo
Fiction
Social Themes
-Kupinta dan kutinggalkan cinta. Ketika ku bersujud.- *** Nimra Aisyah Khawla. Diumurnya yang baru menginjak usia sembilan belas tahun, ia sudah harus merasakan bagaimana pahit getirnya kehidupan. Ketika hati berseru 'tidak siap' namun situasi justru meneriakkan 'harus siap'. Ketika seharusnya impian yang selalu ia impikan mencipta bahagia, justru kenyataan yang ia impikan tak sesuai impiannya. Rumit. Sakit. Hanya bisa Nimra simpan sendiri. Segalanya hanya tentang bahagia yang berbalut derita. Asa berbalut kecewa. Ego berbalut keyakinan. Serta semangat berbalut keputusasaan. Lalu, manakah yang akan memenangkan? Bahagia sebab semangat yang tak pernah surut. Atau justru, Kecewa sebab ego yang selalu diturut?
All Rights Reserved
#570
ego
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Qanita
  • memory
  • LOVE AND FRIENDSHIP ( R & J : 1 )
  • Hijrah Cinta Sang Akhwat Fillah
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • my story
  • Alhamdulillah Berjodoh
  • Delayed happiness
Qanita

"Mulai sekarang kita tidak ada hubungan apa-apa. Kita jalan masing-masing dan jangan ganggu aku lagi!" Qanita Zaura Nindya, gadis berusia 20 tahun itu mematung, seluruh tubuhnya seakan kaku. Qanita berusaha untuk mencerna setiap kata yang baru saja ia dengar. Apakah itu hanya ilusi? Seseorang yang dulu sangat mencintainya dan selalu bersamanya, kini dengan santai mengucapkan kata perpisahan. "Dit, aku bisa jelasin semuanya. Apa yang kamu lihat ini salah." Qanita berusaha untuk mencegah langkah lelaki itu sekuat tenaga, tentu dengan air mata yang tidak bisa berhenti keluar dari pelupuk mata. "Raditya Evansyah. Aku mencintaimu!" Suara Qanita begitu lantang mengucapkan kata cinta kepada lelaki yang kini meninggalkannya. Namun lelaki itu tidak memedulikannya sama sekali, ia terus berjalan tanpa beban. Pantaskah Qanita menangisi lelaki seperti itu? Pantaskah dia mempertahankan cinta yang hanya menimbulkan luka? Saat Qanita sudah hancur, semua yang ada di angannya pun hilang, lenyap begitu saja. Bagai mimpi tapi ini nyata! Kepingan indah kini berserakan tak ada harganya, bagaimana Qanita bisa menyatukan kembali mimpi itu dalam genggaman rida Allah. Hancur adalah titik paling menyakitkan dalam hidup! Sertakan sumber jika ingin mengutip tulisan sederhana ini. -Allah Maha Melihat- Start 17 November 2019 Finish --

More details
WpActionLinkContent Guidelines