A Hello Tears

A Hello Tears

  • WpView
    Reads 16,171
  • WpVote
    Votes 2,436
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 17, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
[17+ RECOMMENDED || Cerita yang ditarik akan diup lagi secara berkala (kemungkinan ads sedikit revisi disana sini ^^) Bukan explicit mature content, tapi karena pemilihan tema dan diksi yang kurang baik untuk early teens. A Hello Tears berkisah tentang romansa antara gadis mungil yang lugu dengan seorang pria dewasa. Terikat oleh perjanjian, Aina harus pindah dari desa yang nyaman ke salah satu kota metropolitan dan tinggal bersama Baren, pria rupawan yang kini memiliki hak penuh atas dirinya. Akankah Baren membawa air mata kebahagiaan untuk gadis itu, atau justru sebaliknya? (𝓞𝓻𝓲𝓰𝓲𝓷𝓪𝓵 𝓬𝓸𝓿𝓮𝓻 𝓭𝓸𝓮𝓼𝓷'𝓽 𝓫𝓮𝓵𝓸𝓷𝓰 𝓽𝓸 𝓣𝓮𝓽𝓮𝓼𝓪𝓵𝓳𝓾)
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Unpredictable Love
  • Marchel And Zarra
  • Glamour (COMPLETED)
  • Persisting - 23 years apart (II) - Completed
  • Marrytime ✓
  • My Best Mate
  • Enduring - 23 years apart (I) - Completed
  • LOVE FOR MY LOVE
  • THE S*X TAPE

WARNING: Beberapa chapter terdapat adegan dewasa. Harap lebih bijak dalam membaca. Lili, hanya seorang gadis sederhana yang manis dan pendiam, tidak memiliki riwayat pacaran. Meskipun begitu, ibu nya selalu menyuruhnya untuk segera mendapatkan kekasih. Namun Lili terlalu pemalu, dia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk mendekati pria. Dan entah bagaimana, seorang pria mulai mengganggunya. ----------------------------------------- Rendra tertawa kecil, suaranya terdengar berat dan penuh godaan. "Jika kamu yang berinisiatif menciumku, aku akan pergi." Lili menggigit bibirnya, tangannya gemetar hebat. Matanya yang basah oleh air mata menatap Rendra dengan gugup dan takut. Hening sejenak. Napasnya tersengal ketika ia akhirnya mengumpulkan keberanian, mengangkat sedikit tubuhnya, lalu berjinjit untuk mengecup pipi pria itu. Namun, sebelum bibirnya sempat menyentuh kulitnya, Rendra sudah lebih dulu meraih tengkuknya, menariknya erat ke dalam dekapannya. Tanpa memberi kesempatan untuk mundur, ia menuntut lebih menyapu bibirnya dengan ciuman yang panas dan mendalam. Suara Rendra terdengar serak di antara napas yang memburu. "Bagaimana mungkin aku bisa melepaskanmu setelah dirimu sendiri yang memberikannya padaku, hm?" ---------------------------------------

More details
WpActionLinkContent Guidelines