PAYUNG REMBULAN

PAYUNG REMBULAN

  • WpView
    Reads 211
  • WpVote
    Votes 33
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadComplete Thu, Aug 29, 2019
WpInfo
Non-Fiction
Hanya ada satu rembulan, yang dengan setia menyaksikan sosok perempuan dengan selendang maut di tubuhnya. Ia seperti tumpukan kayu yang siap dibakar. Tak ada kata tawar-menawar jika berbicara prihal takdir. Di bawah payung rembulan, sosok perempuan itu berlutut dan menengadah sambil berbicara entah pada siapa. " Kelak kalian akan memahami, aku bahkan tak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku, Nowela ( menepuk dadanya ), Akan pergi untuk memerdekakan tubuhku juga pemikiranku. " " Tidak Nowela, kebenaran tak bisa kau rajut hingga harus menutup diri dalam liang keabadian. Dunia harus tahu, kau adalah kebenaran yang ditutupi dan hampir dihilangkan. " Suara Kasyan dari jauh.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALENA SHANKARA AZELA
  • A Love That Kills (END)
  • Chain Desire
  • Debts Of Obsession
  • Kara: I Left God at The Door
  • I'm the Antagonist's
  • Penantian Hujan
  • Evanescent
  • The Midnight Bride [TAMAT]

Alena Shankara Azela, seorang gadis yang bermimpi menjadi seniman, terjebak dalam dunia tanpa kasih sayang dari ayahnya. Ketidakpastian dan keputusasaan menghantuinya hingga ia bertemu Langit, yang membangkitkan semangatnya untuk bertransformasi. Namun, cinta tak semudah itu; ia harus bersaing dengan sahabatnya sendiri untuk mendapatkan perhatian Langit, dan memilih mengalah demi persahabatan. Di saat terpuruk, Alena berjumpa dengan Nabastala, seorang pemuda yang mengajarkannya arti sejati kebahagiaan dan keyakinan. Bersama Nabastala, Alena di bawa ke dalam perjalanan menemukan cinta, persahabatan, dan berjuang untuk mengatasi rintangan. Dalam perjalanan penuh warna ini, akankah Alena menemukan jalan menuju impiannya dan menyentuh jiwanya yang terdalam? Temukan jawabannya dalam kisah penuh haru dan inspirasi ini "Alasan kamu selalu gagal gambar aku, karena kamu belum mencintai ku kan?!" tanya Abas sambil menatap Alena lekat. Alena diam sejenak dan memikirkan jawaban. "Untuk menggambar sebuah objek, kita harus memperhatikan setiap detailnya. Apalagi bagian mata itu sangat berpengaruh! Aku belum bisa gambar bagian mata kamu" jawab Alena. Bagaimana bisa? sedangkan, terlalu lama menatap mata indahnya saja aku tidak mampu. "Itu bukan jawaban, Al! Itu alasan" tegas Abas. Alena menunduk mendengar itu. "Mungkin dulu kamu berfikir aku tidak bisa menggambarmu, karena aku belum bisa mencintaimu. Tapi sekarang lihatlah, seluruh dunia harus tahu, bahwa aku sangat-sangat mencintaimu Nabastala. Selamat berkelana. Selamat abadi dalam karyaku, Nabastala Sagara."

More details
WpActionLinkContent Guidelines