TERROR

TERROR

  • WpView
    Reads 32
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 17, 2019
Entah siapa yang tahu ajal seseorang seperti apa? Macam cara, perilaku dan tingkah yang tak mudah di tebak. Jangan membuat kesan seolah - olah lebih baik. " Rania, kata Aldo dekat rumah kamu ada orang gantung diri ya?" tanya Lisa penuh selidik Rania, gadia remaja 17 tahun adalah pribadi introvert. Ia hanya mau bicara dengan seseorang yang dekat dengannya, yakni sahabatnya Aldo. Aldo tipe remaja yang cerewetnya hampir saingan dengan suara Ibunya di rumah. Langkah menuju ke gerbang sekolah pun terhenti. Rania menatap Lisa dengan dingin, tatapannya sayu. " Iya." jawab Rania lirih " Apa Ran? aku nggak denger." bujuk Lisa terkekeh. Rania pun melanjutkan langkahnya hingga memasuki gerbang sekolah. Lisa berusah mengimbangi langkah Rania. " Tapi bukan gantung diri, melainkan di bunuh." lanjut Rania Lisa yang mendengar itu, berdecak kagum sekaligus khawatir. Lisa khawatir dengan sikap Rania, yang tak semua orang bisa menerimanya. " Plakk!!" pukulan keras mengenai kepala Lisa. " Aku bilang jangan nanya ke Rania, malah nanya!" sewot Aldo " Maaf ya Ran" memegang bahu Rania dengan maksud menguatkannya. " Gak papa Do." menoleh ke arah Aldo dan tersenyum. " Hah?" Kog kamu sikapnya gitu ke Aldo Ran?!" sewot Lisa tak terima. " Kamu jealous Lis?" tanya Aldo dengan tatapan mengejek.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Diary Of Rain [END]
  • Rain, Rein & Ruin (END)
  • ALTAZORA (Complete)
  • PENA ASMARA | TAMAT✅
  • Crazy Couple [End] ✔
  • ICE BOY (SUDAH TERBIT)
  • Transmigrasi Karina
  • ADIKARA ELUSIF (END)
  • DI BALIK ANDROMEDA (END/REVISI ULANG)

Aku beringsut berdiri dan berniat meninggalkan kamar ini secepatnya. Tapi tanganku dicekal olehnya dan langsung ku sentak dengan keras hingga terlepas. "Rain..." panggil Lano namun tak berniat ku hentikan langkah ini ataupun menoleh kebelakang. Namun ketika menyentuh kenop pintu, dua lengan kekar memelukku dari belakang. "Jangan pergi" hembusan nafas yang terasa panas menerpa kulit leherku yang terbuka. Aku memberontak dan memukul-mukul tangannya yang melingkar diperut "Lepas! Lepaskan!!!" teriakku dengan suara parau Bukannya melepas, Lano semakin mengeratkan pelukannya. Tenagaku terkuras habis, sebanyak apapun tenaga yang ku keluarkan untuk lepas dari kukungannya hasilnya tetap sama. Aku masih dalam dekapannya. "Aku benci kau Lano..." Pandanganku memburam seiring mata yang tertutup. Akhirnya aku menyerah dalam pelukannya. Disisa kesadaran aku mendengar suaranya yang nyaris seperti bisikan. "Maaf..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines