Sebuah kehidupan

Sebuah kehidupan

  • WpView
    LECTURAS 47
  • WpVote
    Votos 2
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación dom, sep 1, 2019
"Risna...." (tiba2 aldo berteriak) Dan pastinya seisi perpus langsung melihat Risna... Hening, semua hanya diam tak bergerak. Hingga kata berikutnya . "Riya pingsan" Tanpa pikir panjang lagi risna langsung lari tanpa menghiraukan yang ada disekitarnya, Risna lari dengan begitu cepatnya seperti maling yang dikejar polisi. Napas risna tersenggal senggal sampai di UKS, disana ada banyak anak yang mengerubungi Riya sedangkan risna main nyelonong masuk saja. "kenapa dia bisa pingsan??" "tadi kena bola waktu olahraga kak" jawab lola, salah satu teman Riya "Gak papa kok" tanpa disadar teman2 yang lain ternyata Riya sudah terbangun. "Syukurdeh kalo lo udah bangun tu lo makan rotinya dan minum obat" Memang setiap ada yang sakit pihak osis pasti menyediakan roti dan obat di UKS. Setelah Riya bangun, Risna langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan. Sedangkan Riya hanya menghembuskan nafasnya pertanda kesal.
Todos los derechos reservados
#418
mimpi
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • CINTA DALAM KELABU
  • diagnosis hati
  • Aku Ingin Bercerita
  • MANUSIA KUTUB "Dingin seperti ES"
  •  Become A Mommy? ✓
  • Raina Maramitha
  • Viona Or Ryn || Revisi {Slow Update}
  • TUBUH GADIS NERD [END]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido