Kin Dhananjaya (Cinta dari dunia maya)

Kin Dhananjaya (Cinta dari dunia maya)

  • WpView
    Reads 27,222
  • WpVote
    Votes 3,291
  • WpPart
    Parts 22
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Aug 27, 2020
Siapa yang pantas disalahkan pertama kali ketika hati ini terluka? Diri sendiri! Siapa lagi? Aku yang membiarkannya datang dan singgah. Padahal ia hanya bertamu sedangkan aku menganggap lebih dari itu. Hati ini yang merasakan kenyamanan dengan kebaikan dan perhatian darinya. Aku sendiri yang membiarkan perasaan ini tumbuh bersemi tanpa ingin memangkas walau sedikit saja. Lalu menerka-nerka sendiri dan mengartikan semua kebaikan juga perhatiannya adalah bentuk rasa cinta. Hanya demi membuat diri ini bahagia walau sepotong hati tak rela. Sebab tahu semua hanya sia-sia. Bahwa pada kenyataannya aku tak mungkin memilikinya.
All Rights Reserved
#64
romancedewasa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't call it love!
  • Letting Go, Loving You
  • Rasya Vs Rasyid [END]
  • MARRIED WITH MY FRIEND
  • TOXIC!
  • LELAH
  • Sekali Lagi (End)
  • Dear Aisyah

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines