Aku suka nonton film, baca novel fiksi, dan mengkhayal. Sudah menjadi hobi, bahkan kebiasaan.
Menurutku, dunia fiksi lebih indah. Daripada, hidup nyataku yang jauh dari kata indah.
Aku masih dalam balutan kepompong, belum bisa terbang dan mempunyai sayap cantik.
Apa yang kurang di hidupku? Ada yang tahu?
Aku mendamba pada sosok bidadari jelita yang amat kucinta, sekali lagi akupun mendamba pada malaikat rupawan yang selalu ada saat beban dipundak ini sangat berat. Kerinduan, yang amat dalam. Namun apa daya ini. Kerinduan hanya tinggal kerinduan.
Aku pernah bertanya pada bulan ''apakah, disana kalian merindukanku? ''
Ah sudah, jangan mendamba, ikhlaskan saja. Rindumu akan sampai dengan doa.
Suara hati mengatakan demikian, baiklah aku akan memulai semuanya dengan ikhlas.
Kebahagiaan, aku tak pernah tahu apa hakikat kebahagiaan itu yang sebenarnya?
Dimulai dari kehilangan, kehilangan, dan kehilangan. Sampai lupa bagaimana rasa bahagia itu.
Pada akhirnya, aku dapat melewati ini semua, karena aku tahu. Inilah salah satu caraNya untuk menjadikan kita manusia yang kuat dan tabah, karena dibalik kesedihan ada kamuflase kebahagiaan didalamnya dan begitupula sebaliknya.
Detik ini aku kembali mengingat saat-saat bahagia itu.
Bidadari jelita, dan malaikat rupawan yang kudamba dan kurindu. Serta dia yang membuat hari-hari di masa SMA ku berwarna, sehingga aku bisa sedikit merasakan kebahagiaan dan melepaskan sedikit rasa sakit dan kehilangan. Akankah dia akan selama nya membersamaiku? Akankah dia adalah yang paling baik menurutNya untukku?