We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Positive + Negative

Positive + Negative

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Nov 14, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
"Secara insting, orang tua itu emang lebih sayang ke anak terakhir" Sarah tidak tahu mau berkata apa. Mungkin karena ayahnya kalah dari bebek, Sarah merasa tercubit. Secara insting? Bebek saja menyayangi seluruh anaknya. Sarah merasa malu sekarang. Tapi, di lain sisi apa memang benar? Oh atau dirinya memang sangat buruk, otomatis mereka menjauh. Apa seburuk itu? Kalo dipikir-pikir, memang seburuk itu. Sampah banget. "Sarah, mau ikut gak?" "..." "Ayo ikut. Lo harus menjauh dari lingkungan kayak gini, tapi jangan baper ya gue kan emang baik sama semua orang"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Breathe
  • Maaf, Dara.
  • Kita Sembuh Bareng?
  • Adek Abang || END
  • Sejenak Luka
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Eliinaa
Breathe

[Trigger warning! Efek yang kalian rasakan setelah membaca cerita ini di luar tanggung jawab dan kuasa penulis.] We all here have our own struggles. Hal tersebut adalah sesuatu yang pasti dalam hidup, yang tidak dapat ditentang lagi. Itu pula yang dirasakan oleh Rome. Ia sama seperti kalian. Ia pun memiliki masalahnya sendiri. Memiliki "luka"-nya sendiri. Tak terhitung berapa banyak goresan yang pernah ditorehkan dunia padanya hingga detik kau membaca kalimat ini. Sampai pada akhirnya, ia tidak dapat merasakan luka itu lagi. Kau tahu? Tingkatan sakit yang paling sakit adalah ketika kau sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Dan itulah yang dirasakan oleh Rome. Semuanya terasa kebas. Semuanya terasa begitu biasa. Semuanya terasa bagaikan bagian dari hidupnya yang mustahil untuk dihilangkan. Namun tetap saja, luka itu tidak akan pernah hilang dan akan selalu terasa sakit ketika dunia lagi-lagi menggoresnya. Bukan soal fisik, namun soal jiwanya. "Sometimes you gotta bleed to know that you're alive and have a soul." -Twenty One Pilots-

More details
WpActionLinkContent Guidelines