Walking Under Rain

Walking Under Rain

  • WpView
    Reads 59
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 23, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Terkadang, hidup memang terasa seperti sebuah cerita yang naskahnya merupakan karya dari Tuhan sendiri. Tidak ada yang tahu kelanjutan ataupun akhir dari cerita tersebut sebelum kita mengalaminya. Tokoh dalam cerita itu pun hanya bisa menikmati dan mengikuti jalan cerita dengan karakter dan peran dari masing-masing, seolah memang sudah ada yang mengatur. Menjadi impian para lelaki bukanlah hal yang disesali Karin. Menjadi bulan-bulanan bagi para gadis pun bukan hal yang dibencinya. Tapi, dia harus menerima kenyataan bahwa terlahir sempurna bukanlah jaminan untuk hidup bahagia. Ada banyak sisi lain yang harus dilalui untuk tetap berdiri dalam perjalanan hidupnya. Semua garis hitam yang mengganggu telah menjadi petunjuk untuk mengetahui apa yang akan ia lalui setelahnya. Butiran hujan pun ikut menjadi saksi bisu atas semua yang ia adukan kepada Tuhan dalam setiap renungnya. "Jadilah teman yang akan mendampingiku melewati ini semua".
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hujan dan Sebuket Dandelion
  • You Are Not Alone [ORINE] END
  • Harapan Dandelion yang Rapuh
  • Karin
  • KARIN'S
  • BALADA KEHIDUPAN
  • FABEL {ON GOING}

Ini tentang keluarga. Juga tentang hujan yang indah. Seperti halnya Naradra Carolina Abastra. Penyuka kaos oversize juga celana training yang sedikit kepanjangan. Gadis biasa-biasa saja dengan rambut panjangnya yang tergerai bebas. Ketika rintik-rintik hujan saling berjatuhan hingga berubah deras. Dia selalu ada untuk melihatnya menyambut bumi. Menciptakan suara melodi yang indah, dibalik awan gelap. Begitu juga dengan bunga dandelion, indah dengan caranya sendiri. Terbang bebas tanpa takut terlihat berbeda. Karena itu Nara suka dengan keduanya. Namun kekakuannya hanya satu, yakni seorang Damantara Gusti Pangestu. Lelaki dengan rambut kecoklatan dan kacamata bulat yang bertengger sempurna menghiasi wajahnya. Bukan laki-laki culun juga berandal. Gusti selalu berhasil menjungkir balikkan hatinya. Dengan mata hitamnya yang memikat. Sayangnya, dia bergerak untuk sebuah rahasia kelam. Namun, jika waktu terus mengikis rahasia yang selama ini mereka tutup. Apakah Tuhan masih memberi kesempatan untuk bersama? Atau justru mereka sendiri yang akan pergi, meninggalkan jejak yang kian dalam? __________________________________________________ Gusti menghela napas. "Mau tau sesuatu?" matanya menatapku begitu serius. "Sesuatu?" Laki-laki itu mengangguk. "Tentang semua ini, yang mungkin buat lo risi?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines