HippoCampus

HippoCampus

  • WpView
    Reads 29
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Aug 27, 2019
Karena, kadang ketika kita ingin mengisi kotak kosong dengan apapun yang kita punya. Kotak itu tetap terasa kosong, karena bukan kotaknya. Tapi, diri kita yang terus kosong. Tanpa tau kenapa kita harus mengisi kotaknya. Dan dengan apa yang pantas menjadi pengisi kotak itu. □□□ Aku bukan pengingat yang baik, bahkan sangat buruk. Tapi, entah kenapa untuk mengingatmu cukup lama malah membuatku ingin melupakannya. Untuk saat ini, ketika aku ingin lupa aku hanya terus ingat. Karena mungkin kamu yang selama mengisi kotak kosongku. Yang tak pernah bisa terisi, walau aku berusaha mengisinya. - Rana Andria □□□ Selama ini aku selalu takut, takut membuat keputusan yang berakhir menyakiti. Mungkin, satu kata yang kamu ucapkan yang akhirnya membuatku mengerti dan berani. Bahwa aku harus bisa memutuskan sesuatu walau harus menyakiti. Selama ini aku selalu mengisi hal yang tidak tepat, karena bukan salah. Aku hanya tidak tepat pada tempatnya. Kotak yang ku isi selalu penuh, dengan penyesalan. - Arjuna Barasatya Husni
All Rights Reserved
#79
rana
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Matahari
  • Om Barra [TERBIT]
  • Stay With Me
  • [END] When the Stars are Tired
  • Maaf' (Revisi)
  • The Other Me (on going)
  • Kok Kita Nikah?[END]
  • Semua Tentang Kita (STK) ✔️
  • EX's (Completed)
Matahari

Aditya Baskara benci ketika mengingat acara bunuh dirinya yang tak jadi karena dipergoki oleh seorang gadis cacat kaki bernama Arunika Ahana. Terlebih lagi dengan ucapan sarkas gadis lemah itu. Setelah kejadian itu, Arunika masuk ke dalam daftar jajaran orang yang harus Baskara jauhi. Tapi di kemudian hari, Baskara dengan tak ada harga dirinya malah memohon Arunika untuk memeluknya ketika astraphobia-nya kambuh. Baskara agaknya sudah semakin gila ketika tanpa sadar tiap malam ia selalu rindu akan pelukan Arunika. Sehaus kasih sayang itu kah dirinya? "Itu air buat gue, 'kan?" "Bukan. Ini buat Arvi." "Arvi?" Baskara tersenyum kesal, menatap tajam Arunika. Dia menunduk mensejajarkan kepalanya dengan Arunika dan membawa tangan gadis itu menyentuh rahangnya. "Yang butuh perhatian itu gue, bukan Si Ingusan itu." "Kamu-!" "Gue haus, Aru-haus kasih sayang lo." 23. 08. 2024 [ Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang ]

More details
WpActionLinkContent Guidelines