Ambivalent

Ambivalent

  • WpView
    Reads 4,984
  • WpVote
    Votes 275
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 15, 2023
[ON HOLD] New Adult | Religi | Romantic Drama Bagaimana jika tragedi di masa lalu ternyata masih berbuntut hingga menuntut pada sebuah keadilan? Cinta, tapi benci. Benci, tapi cinta. Membara di antara remuk redam kenyataan yang pahit. Inilah kisah Habbatus Sauda, gadis pemilik toko bunga penuh semangat dan dokter jutek yang menganggap hidupnya sendiri tak pernah seelok nama Senja. ___ "Pernah suatu kali aku berpikir terlalu sulit melewati jalan yang kulalui sendirian. Akankah suatu saat nanti jalanku menemukan pendampingnya?" [Habbatus Sauda] "Tetaplah bersamaku. Meskipun jika aku tak bisa berjalan di sampingmu, bukan berarti bayangku telah sirna." [Leksana Senja]
All Rights Reserved
#277
hijrah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Darbuka Cinta
  • Laskar Pemimpi || NCT Dream (on going)
  • Sedekat Nadi Sejauh Matahari [BELUM REVISI]
  • Poison Of Love
  • Aku Mati Rasa Perihal Cinta
  • Secret Famous Girl
  • WHO ?
  • HE'S COMEBACK

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines