Sepuluh Lembar Mimpi

Sepuluh Lembar Mimpi

  • WpView
    LECTURAS 28
  • WpVote
    Votos 1
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, dic 19, 2022
Muhammad Thauq Athallah Dzakir Alauddin. Ia adalah seorang anak lelaki jalanan yang tak pernah menyebutkan mimpinya, dia berpendapat bahwa mimpi itu suratan takdir dari Allah yang maha kuasa, membuat suatu mimpi berarti menyalahi takdir-Nya, dan menurutnya percuma saja bermimpi pada akhirnya yang akan terjadi juga kehendak dari ilahi, jadi jalani dan syukuri semuanya dengan baik. Namun, sepuluh lembar kertas mengubah semuanya, sepuluh lembar kertas yang bisa membuat mimpi menjadi nyata. Bukankah ia tak ingin bermimpi? Itulah mengapa ibunya memberinya nama itu padanya, ia tak pernah tau alasannya, yang ia tau, nama itu memberi kesengsaraan padanya saat mengisi LJK. Ibu dan ayahnya percaya bahwa Thauq adalah anak yang lahir dengan potensi yang tinggi, namun Thauq tak pernah menyadari nya, kecerdasan yang standar membuatnya tak pernah mendapat juara kelas, suara yang jelek membuatnya tak lulus di olimpiade bernyanyi, dan badan yang pendek membuatnya tak lulus di olimpiade olahraga, jadi apa yang dimaksud ibu dan ayahnya tentang potensi?
Todos los derechos reservados
#34
kisahkeluarga
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Kara: I Left God at The Door
  • ILUSI dan MIMPI
  • the best choice
  • Langit Senja di Kota Nabi
  • Beauty With The Qur'an [ON GOING]
  • Kepingan Kisah dalam Sejarah
  • Assalamu'alaikum Cinta (Slow Update)
  • Gus Arsya
  • Raden Aluna
  • Gus Zidan My Husband [SUDAH TERBIT]

Salahkah mereka yang mencoba berpaling? Ataukah mereka memang sudah dibutakan oleh kenikmatan duniawi? Lenaan yang memikat membuat siapa pun rela meninggalkan Tuhannya meski itu hanya di depan pintu. Ambar telah melakukannya. Dia rela meninggalkan Tuhan di depan pintu dengan dalih untuk mengobati luka hatinya. Lalu, bagaimana Ambar harus mempertanggungjawabkan tindakannya itu? Saat mencoba menebus kesalahannya, tamparan nasib membuatnya harus menyaksikan anak-anaknya tewas mengenaskan di tangan anak tertuanya. Mungkinkah ini teguran karena telah meninggalkan Tuhan? Tidak sampai di situ kegetiran hidup yang harus dia rasakan. Anak terakhir Ambar, Kara, kembali mengulang kesalahannya. Saat gadis lugu itu mencoba kembali mengais cinta kasih Tuhan dengan beban turunan yang dia pikul dari orang-orang yang telah meninggalkannya, terpaan badai kehidupan kembali memporakporandaan batinnya. Dapatkah Kara kembali ke jalan yang Tuhan kehendaki dan menjadi hamba yang taat?

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido