My Name Is... Queen

My Name Is... Queen

  • WpView
    MGA BUMASA 9,555
  • WpVote
    Mga Boto 926
  • WpPart
    Mga Parte 21
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Sat, Oct 5, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
"Gue Radja." Ujar pria itu sambil mengulurkan tangannya. "I'm Queen. Just... Queen." Radja menatap tangannya yang hanya mengapung di udara tanpa gadis itu mau menyalami, sialan! Apakah ini adalah perasaannya yang pengagum rasanya rasakan saat mereka tidak dihiraukan olehnya? Radja baru saja hendak menarik tangannya kembali saat sebuah tangan menyalaminya, tangan Queen. "Semoga lo bisa tahan jadi chair-mate gua ya," ujar Queen lalu kembali mencoba tertidur. Radja menatap gadis itu dengan takjub sambil menggelengkan kepalanya dengan heran. Ternyata gadis aneh yang langka benar-benar ada, lebih parahnya lagi gadis itu duduk di sampingnya.
All Rights Reserved
#26
hanlice
WpChevronRight
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • Petikan Lingga
  • Abu Abu [ completed ]
  • PROMISE
  • DANADYAKSA
  • GOOD GIRL AND BAD GIRL
  • Leona[Hiatus]
  • ARGLADIS
  • Fierce Love
  • Males, ribet.

Suara petikan gitar mengisi ruangan kecil itu, menggema lembut di antara dinding-dinding kosong. Lingga duduk bersila di lantai, memeluk gitar akustiknya seperti seorang sahabat lama yang selalu setia mendengar. Tangannya bergerak perlahan, memainkan melodi yang sederhana namun penuh makna. Mata Lingga terpejam, seakan mencari ketenangan di antara setiap nada yang ia mainkan. Hari itu, matahari menyelinap masuk melalui celah-celah jendela. Langit berwarna jingga keemasan, tanda bahwa senja sudah mulai memeluk hari. Lingga tahu bahwa waktu terus berjalan, namun ia merasa seolah detik-detik itu melambat saat ia tenggelam dalam musiknya. Di sudut ruangan, terletak sebuah foto kecil yang berdiri di atas meja kayu. Foto itu adalah potret dirinya bersama Nalendra-tertawa bersama di sebuah taman dengan cahaya matahari menerpa wajah mereka. Lingga melirik foto itu sejenak, senyumnya muncul tapi dengan berat, seakan ada sesuatu yang tertahan. Petikannya terhenti. Lingga menarik napas dalam-dalam, lalu menundukkan kepala, memandangi gitar di pangkuannya. "Len... gue nggak tahu kenapa gue selalu mainin lagu ini setiap kali gue mikirin lo," gumamnya lirih. Ia mengusap wajahnya, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di matanya. Hening. Hanya ada suara angin yang meniup lembut tirai jendela. Lingga kembali menyandarkan punggungnya ke dinding, mencoba mengingat saat-saat ia dan Nalendra duduk bersama di tempat ini. Gitar yang kini di tangannya pernah dimainkan oleh Nalendra, bahkan melodi yang ia mainkan barusan adalah lagu yang sering mereka nyanyikan bersama. "Mungkin lo bener, Len," bisiknya pelan. "Hidup ini nggak selalu soal yang sempurna, tapi soal belajar menerima." Lingga tersenyum kecil, meskipun hatinya masih terasa berat.

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman