The Indigo Diary (Sudah Terbit)

The Indigo Diary (Sudah Terbit)

  • WpView
    LECTURAS 3,013
  • WpVote
    Votos 123
  • WpPart
    Partes 21
WpMetadataReadConcluida vie, may 29, 2020
Mereka dimana-mana, di rumah, di taman, dan di sekolah. Anugerah pemberian Tuhan ini awalnya menakutkan bagi sebagian orang tapi bagiku biasa saja melihat mereka yang tak kasat mata. Mereka seperti kita hanya saja tak kasat mata. Hidup mereka seperti kita hanya saja tak kasat mata. Sifat mereka seperti kita hanya saja tak kasat mata. Nb: sebagian part telah dihapus karena buku telah terbit. buku bisa di beli di www.guepedia.com, shopee, Bukalapak, dan Tokopedia
Todos los derechos reservados
#1
telahterbit
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • BUMANTARA
  • AKANDRA
  • My Stupid Indigo
  • INDIGO
  • Bisikan Hawa
  • susuk
  • Diary INDIGO
  • Ghost Stories
  • Mereka yang Menunggu di Pintu
BUMANTARA

PLAK!!! Suara tamparan keras yang menghantam pipi seorang gadis yang tengah meringkuk di atas dinginnya lantai toilet. Gadis itu tak melawan, dia hanya diam sambil menatap nanar pada lantai, dia Naya Rivera. "ANJ**G! gak guna lo!" maki seorang siswi itu, sambil sesekali menendang tubuh gadis malang itu. "Maaf." ucap Naya itu dengan nada bergetar, hanya kata itu yang bisa dia ucapkan di balik rasa takutnya. Cih! Bukannya merasa kasihan, siswi itu malah semakin membabi buta dengan menarik keras rambut Naya, lalu mencengkram kuat-kuat rahang Naya. "Apa? maaf lo bilang?! Kata maap lo gak cukup buat nilai tugas gue jadi 100 tolol! Dasar anak pelac*r!" keras dan tidak tahu rasa terima kasih, itulah Rossalia Maharani. Menjadikan Naya sebagai budak untuk mengerjakan semua tugasnya. Naya memang terkenal akan sifat lugu serta kepintarannya, dan Rossa berpikir bahwa mengapa dia tidak memanfaatkan itu semua bukan? Tuntutan akan keluarga Rossa, yang menekan anaknya untuk menjadi yang paling utama dalam hal apapun, apalagi masalah prestasi di sekolahnya. Bagi Naya, sekolah ataupun rumah itu sama saja, iya sama saja tempat yang menyakitkan. Disaat orang lain merasakan rumah menjadi tempat ternyaman, namun itu tidak berlaku bagi Naya. Tamparan bahkan pukulan sudah menjadi bagian yang Naya dapatkan setiap harinya. Tak ada yang menyayanginya, tak ada yang mampu mengerti keadaannya, tak ada seorangpun. Ibu nya? Tidak, dia sama saja seperti orang lainnya. Teman? itu apa lagi, Naya sama sekali tidak mempunyai teman. "Mana ada orang yang mau berteman dengan orang udik seperti saya" pikiran itu yang selalu tertancap keras di pikirannya. Apakah Naya mampu melawan setiap kesedihan nya? Akankah Naya merasakan kebahagiaan seperti yang orang lain rasakan?

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido