masa kecil tanpa gadget

masa kecil tanpa gadget

  • WpView
    LECTURAS 5
  • WpVote
    Votos 1
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación vie, ago 30, 2019
ketika pulang sekolah tiba, dilapangan yang kecil sekelompok anak kecil dan tanpa malu bermain air hujan dengan bahagianya tanpa menghiraukan sekeliling. tanpa lelah mereka bermain bergurau bercanda bersama walau tanpa gadget. disaat hujan mulai gerimis mereka akan menunggu saat hujan mulai deras dan saat itu mereka akan bermain hujan sambil berlari-lari bermain kejar kejaran adapun yang sambil bermain bola dengan senangnya, tetapi kesenangan mulai terhambat karena badai petir mulai datang dan di gubuk kecil dilapangan itu mereka berlindung sambil menunggu badai reda. mereka mulai sedikit cemas karena hari mulai gelap dan badai masih belum reda, tapi mereka tidak menyerah dan terus berusaha agar dapat pulang kembali ke rumah mereka, satu orang mengambil daun pisang dan mengumpulkan di gubuk itu dan mereka pun berlindung dengan daun pisang tersebut, saat di tengah jalan badai telah reda hari pun mulai cerah dengan senja yang seakan menghias cerita mereka, sambil bercerita mereka tertawa dan mereka pun sampai ke rumah mereka masing-masing lalu beristirahat dan mereka pun telah bersenang senang dengan menjalani hari tanpa gadget. hari pun mulai gelap dan mereka tertidur terlelap dan mereka akan kembali menikmati hari esok.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Tolong, Aku Masih di Sini
  • VALERIE : NOT AYUNA [ rombak Ulang ]
  • ARKAN |END| Belum Revisi
  • Natio Family
  • Transmigrasi MyTia [END]
  • Arsyilazka
  • A Bittersweet farewell  ( Sudah Lengkap Mari Di Baca)
  • KISAH TANPA ENDING ✓

Mereka bilang, jangan pernah main ke hutan itu saat matahari mulai turun. Bukan karena hewan buas. Bukan juga karena tersesat. Tapi karena... tak semua yang berdiam di sana adalah manusia. Di balik pepohonan yang menjulang dan semak berduri, ada satu rumah kosong. Sudah lama tak ditinggali, katanya. Tapi kadang- lampunya menyala. Tirai bergerak. Dan suara tawa terdengar di malam hari. Warga desa memilih bungkam. Anak-anak yang bertanya dibungkam dengan dongeng-dongeng: "Rumah itu milik orang kaya yang pindah ke luar negeri." "Sudah tak ada apa-apa di sana." "Jangan percaya cerita aneh-aneh." Tapi wajah mereka selalu tegang saat menyebutnya. Dan tak ada satu pun yang berani menjejakkan kaki ke tanah itu. Sampai akhirnya, pada suatu sore, Tujuh anak muda tertawa di antara rerimbun hutan, memainkan petak umpet tanpa tahu batas. Langit mulai redup. Angin berubah dingin. Dan salah satu dari mereka... menghilang.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido