We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Titik Temu

Titik Temu

  • WpView
    Reads 60
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 19, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
"Beruntung nya aku dimiliki kamu, ku bersyukur atas segala pengharapan yang selalu ku semogakan kini Allah mendengar dan menjawab atas doa doaku." Lean~ Belajarlah menghargai perasaan dirimu, jangan terlalu sibuk memelihara perasaan orang lain. Sedang perasaanmu dibiarkan tak terurus,liar bahkan terluka. kini ku mulai hari demi hari,mengubah semua langkah demi pengharapan cinta yang sebenarnya Sang Khalik Yang Maha Penguasa Hati. . . Uzi~ ya dia seorang yang ku sita diam-diam namanya lalu ku persentasekan lewat doa. Meski ini perjalanan yang rumit dilalui,namun Allah Maha Bijaksana atas ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan. . . Hingga pada Titik Temu ku dapatkan anugerah Mu, sungguh pengharapan yang indah, Lean~ bentemu dengan Cinta sejati nya~Uzi.
All Rights Reserved
#18
lean
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memeluk Sajadah
  • Surga untuk Air Mata
  • SELAMA ITU KAH, APAKAH  KAU AKAN KEMBALI?
  • Be Present and Stay
  • Bring Me To Jannah
  • Ku Sampaikan Cinta Ini Dalam Do'a
  • Cinta dalam do'a
  • senja di matamu
  • JUst foR YoU ❤️
  • CINTA DALAM PENANTIAN [TERBIT ]

Hujan turun perlahan membasahi halaman pesantren kala itu. Safana berjalan cepat dengan mata memerah menahan amarah dan malu yang bercampur menjadi satu. Tangannya gemetar merapikan hijabnya yang sempat tersingkap tanpa sengaja. Ia berhenti tepat di depan Ustad Azam. Lelaki itu terlihat terkejut melihat tatapan penuh kecewa. "Ustad orang pertama yang lihat aurat saya..." suara Safana bergetar, menahan tangis yang sejak tadi sesak di dadanya. "Maka itu nikahi saya." Suasana mendadak sunyi. Bahkan suara hujan seakan ikut berhenti mendengar kalimat itu. Safana menunduk dalam, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Bukan karena ia mencintai Azam, tetapi karena harga dirinya terasa runtuh saat aurat yang begitu ia jaga justru terlihat oleh seorang lelaki. Azam memejamkan mata sejenak. Rasa bersalah menghantam dadanya. Semua terjadi tanpa sengaja, namun ia tahu luka di hati Safana tidak sesederhana kata maaf. "Bismillah... insyaAllah saya siap menikahimu," ucap Azam pelan namun tegas. Safana terdiam. Dadanya semakin sesak. Entah kenapa jawaban itu justru membuat hidupnya berubah kala itu. Karena sejak kalimat tersebut terucap, bukan hanya tentang pernikahan yang menanti mereka... tetapi juga rahasia, fitnah, dan hati yang perlahan mulai saling jatuh cinta

More details
WpActionLinkContent Guidelines