Story cover for MANTRA by Hanik_Kunjayana
MANTRA
  • WpView
    Reads 77
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 2
  • WpView
    Reads 77
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 2
Ongoing, First published Sep 01, 2019
'Hidup tak seindah cerita dongeng pengantar tidur'

Setidaknya, begitulah pemikiran Anindita Maheswari (Anin, 34 tahun), wanita yang menikahi cinta pilihannya. Sehingga ia dikaruniai tiga orang anak, seorang putri yang cantik serta dua jagoan yang lincah dan ceria. Anak-anak menyenangkan yang mewarnai hari-harinya.

Bukankah seharusnya cerita hidupnya indah bagai dongeng?

Kenyataan itu datang, cinta pilihan Anin mengkhianatinya. Prabu Wira Wikrama (Wira, 34 tahun), suami Anin, tak bisa memenuhi kesepakatan di antara mereka. Ia jatuh hati pada wanita lain.

Haruskah Anin bertahan dan menganggap rasa sakit hanyalah fatamorgana? Ataukah, memilih meninggalkan cintanya itu, lantas mengukir luka baru untuk anak-anaknya?


Ikuti kisah mereka, yuk!
All Rights Reserved
Sign up to add MANTRA to your library and receive updates
or
#268mantra
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 9
Timpang Tindih cover
Jodoh dan Takdir cover
[NOT]FAKE LOVE (Marriage of The Unbroken) ✔ cover
Annalia (Tamat) cover
Xless Marriage cover
ISTRI RAHASIA cover
Behind Our Eyes  cover
Prahara Pernikahan Praya (KaryaKarsa) cover
Dendam Dan Cinta  cover

Timpang Tindih

16 parts Ongoing Mature

Gistara Arawinda mengambil keputusan tidak adanya anak dalam pernikahannya. Bukan karena ia tidak menyukai anak-anak. Profesinya sebagai seorang dokter spesialis anak, sudah cukup menggambarkan betapa ia mencintai makhluk polos itu. Tumbuh dan memelihara luka batin akan pigur seorang ibu, menjadi alasan besar Gistara. Ia takut menjadi seperti ibunya. Ia tak ingin menciptakan luka Gistara yang lain di dalam tubuh kecil anaknya. Tuhan maha membalikkan hati manusia, sembilan tahun pernikahan mereka, Gistara berubah pikiran. Dalam hidupnya, setidaknya ia harus punya satu malaikat kecil nan menggemaskan itu. Namun, di tengah proses mendapatkan itu semua, bak disambar petir di tengah hari bolong. Di rumah sakit yang sama, ia mendapati sang mertua merawat wanita muda pasca keguguran anak dari Sultan Arrasyah---suaminya. Semesta seakan sedang mengoloknya, pandangan remeh sang mertua tentang ketidakmampuan memberinya garis keturunan pun, membuat Gistara memendam tekad. Di usianya yang ke 37 tahun, akankah ia mampu bersaing dengan wanita yang jauh lebih muda darinya, demi menghadirkan yang diinginkan sang mertua? Terlebih saat hati sang suami perlahan semakin timpang terhadap ia dan madunya? Atau ... ia lebih memilih untuk menyerah dan pergi?