HOPE & DREAM

HOPE & DREAM

  • WpView
    Reads 20
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 3, 2019
Aku muak dengannya, tak pantas kalau dia berada di hidup ku, sudah cukup dia menyakiti ku dan adik ku, bisa kah dia buat kita tenang dan bahagia tanpanya... Siapa diriku, dimana aku, semuanya gelap, serasa sendiri di tengah-tengah dunia, air mata seseorang serasa menetes di muka ku, siapa dia??? ... Tuhan.. Terima kasih kau kembali kan malaikat ku, tetapi kenapa kau biarkan orang yg menjaga ku selama ini membencinya, aku merindukan pelukan ibu ku, tetapi kembalinya membuat kaka ku melepaskan genggamannya pada ku.. Ingin aku memeluknya, menciumnya, bercanda dengannya, membelikannya es krim strawberry kesukaannya, membelikan seperangkat mainan dokter untuknya, tapi lihat lah sekarang melihatnya dengan jarak 5 meter aja aku gk sanggup, dia langsung memalingkan mukanya padaku, Tuhan aku gk sanggup... .
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • MENYELAMI ANGKASA [TELAH TERBIT DI LOVRINZ]
  • Sebuah Rasa
  • Let Me Love You Longer
  • My Life is My Secret - IMiaw
  • A Second Chance #Brotherhood 3 (Complete)
  • ReinSheria [COMPLETED]
  • Forgiveness
  • Misunderstand
  • Full Of Scratches

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines