We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Through Life

Through Life

  • WpView
    Reads 375
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 19
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 12, 2021
WpInfo
Poetry
Hidup mengajarkan banyak hal, mulai dari berjuang untuk hidup, healing self, self love, fight with our dark shadow, dan lainnya. Ada waktunya dimana kita benar-benar merasakan kebahagiaan sampai dimana kita merasakan hidup dengan keputus-asaan dan kesedihan mendalam, dan terkadang mungkin merasa bahwa hidup tidak berarti apa-apa, merasa kosong dan hampa. kebahagiaan hanya terasa sebentar dan selanjutnya hanya dipenuhi dengan kesengsaraan yang dirasa tak kunjung henti. Berkelahi dengan keadaan dan bertahan di dunia tidaklah mudah, banyak dari mereka yang tidak mampu akhirnya terkalahkan dan memilih akhir hidup yang tragis. Ini Kata ku mewakilkan kalian yang mungkin merasakan hal yang sama. Karya pertama :D mohon dimaafkan jika ada salah dalam penulisan atau penulisan kurang nyambung hehe.
All Rights Reserved
#11
exhausted
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • ENDLESS SUFFERING [•Halilintar•] Empire Era
  • Beautiful & Broken
  • lost them
  • Breathe
  • Just Words
  • Rahasia Boboiboy Gempa
  • Ruang Hidup (SUDAH TERBIT)
  • 𝐃𝐈𝐀𝐍𝐓𝐀𝐑𝐀 𝐊𝐄𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈𝐀𝐍 [✓]
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines