Angin timur dan anjing pincang

Angin timur dan anjing pincang

  • WpView
    LECTURAS 5
  • WpVote
    Votos 1
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, sep 4, 2019
* Angin timur dan anjing pincang * angin timur sudah sampai. dari balik jendela ia memainkan biola desirnya menggugurkan daun daun mengeringkan sungai sungai. Mematikan jangan. Kau akan mati kedinginan tetaplah di dalam berselimutlah dalam doa dengar. Lolongan anjing pincang itu suaranya tembus ke gunung menyusul komplotannya di kegelapan saling bersahutan di bawah purnama di balik cemara di akar akar pepohonan. Mencekam lihat. Tangisan anjing tua itu memilukan anaknya mati ditikam melodi Anjing pincang itu lari dari buruan tertinggal kawanan merintih. Bau amis darah mengental Gawat ia semakin dekat jangan keluar aku. Sudah mati di bawah jendelamu Bandar Lampung Agustus 2019 Ibnu Kho"tomi" #pahlawanberkoreng
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Tolong, Aku Masih di Sini
  • 1000 Syair Puisi Jalanan
  • Pernah Patah
  • Hujan (Completed)
  • TAKDIR
  • Sepertiga Malam Tentangnya
  • Assalamu'alaikum Kekasih Halalku
  • Catatan Hati Seorang Santri
  • Golden Blossoms (End)

Mereka bilang, jangan pernah main ke hutan itu saat matahari mulai turun. Bukan karena hewan buas. Bukan juga karena tersesat. Tapi karena... tak semua yang berdiam di sana adalah manusia. Di balik pepohonan yang menjulang dan semak berduri, ada satu rumah kosong. Sudah lama tak ditinggali, katanya. Tapi kadang- lampunya menyala. Tirai bergerak. Dan suara tawa terdengar di malam hari. Warga desa memilih bungkam. Anak-anak yang bertanya dibungkam dengan dongeng-dongeng: "Rumah itu milik orang kaya yang pindah ke luar negeri." "Sudah tak ada apa-apa di sana." "Jangan percaya cerita aneh-aneh." Tapi wajah mereka selalu tegang saat menyebutnya. Dan tak ada satu pun yang berani menjejakkan kaki ke tanah itu. Sampai akhirnya, pada suatu sore, Tujuh anak muda tertawa di antara rerimbun hutan, memainkan petak umpet tanpa tahu batas. Langit mulai redup. Angin berubah dingin. Dan salah satu dari mereka... menghilang.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido