Story cover for Real Love by Dimple_Boy
Real Love
  • WpView
    Reads 250
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 13
  • WpView
    Reads 250
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 13
Ongoing, First published Sep 04, 2019
Dalam cinta kita butuh dua ruang, ruang pertama itu ruang untuk mencintai dan dicintai sedangkan ruang kedua adalah ruang untuk jatuh, ruang untuk penyesalan, ruang untuk kesakitan.

Di cerita ini aku mau berbagi berbagai kisah cinta yang menyenangkan, kadang menyedihkan kadang mengecewakan tapi selalu berakhir dengan baik.

Cinta gak selamanya harus memiliki kan? Terkadang orang yang udah kita jaga lama jika bukan jodoh kita mau dibilang apa?
All Rights Reserved
Sign up to add Real Love to your library and receive updates
or
#22tami
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 8
Erlangga cover
I LOVE YOU, KAK! [SEGERA TERBIT] cover
ANTARA DOA DAN RASA cover
Semu [Completed] cover
Masih Ada Kamu di Setiap Luka [TAMAT] cover
My Badboy cover
kita dan waktu. [End] cover
SEMESTA TAK MERESTUI cover

Erlangga

7 parts Complete

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?