Jodoh tak terduga

Jodoh tak terduga

  • WpView
    Reads 29
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Sep 9, 2019
Keinginan ku hampir tercapai dengan menikah dengan sosok yang aku impikan, dia arsitek muda berperawakan tinggi, hidung mancung y, kulit putih y, kepintaran y, terutama ke sholehan y dan dia dari kalangan atas yang berpendidikan. Dia paling mengerti diriku dan menerima ku dengan banyak y segala kekurangan ku. Dengan berbagai rintangan kita hampir lewati, dari orang tuaku yang tidak merestui hubungan kita karena dia yang dari kalangan atas sedangkan aku dari keluarga sederhana, tapi dia mampu meyakinkan orang tua ku kalau itu bukan masalah besar, dia meyakinkan bahwa keluarga y mampu menerima aku apa ada y. Orang tua ku merestui dengan satu syarat bahwa aku tidak boleh melangkahi kakak perempuan ku yang di umur 25 tahun belum menikah, dia menyanggupi y. Dengan beriring y waktu, tiba² omah y sakit dan memintaku menikah dengan kakak laki2 y yang di umur 27 tahun belum menikah. Dan itu beliau katakan sebagai permintaan terakhir y. Dan dia tidak bisa melakukan apapun selain mengiyakan Keinginan omah y, tanpa memikirkan perasaan ku.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • SELEPAS KAU PERGI (END)
  • CACA (TAMAT)
  • philopobhia
  • Tak Sengaja Jodoh
  • MY PERFECT HUSBAND:Kth❤😘😍😙
  • MENIKAH (Selesai)
  • Hanya Turun Ranjang
  • Pesonamu
  • Arin & Ali

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines