Drizzle

Drizzle

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 10, 2019
Untuk mu yang nama nya selalu ku selipkan dalam doa ku bahkan sesaat sebelum aku terlelap, bolehkah ku titipkan rasa ini pada setiap puisi yang sengaja ku tuliskan dan selipkan di balik roti isi coklat favorit mu dikala pagi. Kadang, aku merasa iri kenapa semua nya tanpak baik-baik saja untuk mu , kenapa mereka dengan mudah mengobrol serta bercanda dengan mu , sedangkan aku tidak. Kadang, aku mulai berpikir. Dimana letak salah ku? Aku punya banyak sekali waktu bersama mu, namun tidak ada satu alasan pun yang membuat ku dapat bicara pada mu. Bahkan saat mata kita saling bertemu pun,bibir ini masih saja kelu untuk sekedar menyapa atau tersenyum kearah mu. Dan kau.. masih menjadi sosok jangkung yang angkuh kepada ku. Hingga sebuah puisi ku tertempel di mading beratas namakan "si peri kecil ku". Puisi itu hanya aku,kau dan Tuhan yang tau. Beserta malaikat dan para setan yang tau tanpa seijinku tentu nya. Lalu bagaimana puisi itu ada disana ? di pojok kiri atas mading bagian karya sasta . Mungkinkah itu kau ? yang dengan sengaja mengirim nya. Untuk apa ? Menemukan ku ? atau .. ah entahlah.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memori (End)
  • From Leiden
  • Close Your Eyes (Sehun - Jieun) (End)
  • "PERJUANGAN CINTA BEDA AGAMA"
  • LANGIT YANG TAK PERNAH PULANG
  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah
  • You, Hope, and Memories

Dulu sekali, sebelum kita berpisah Kamu selalu menjadi yang pertama yang kuingat setiap bangun tidur dipagi hari. Dulu sekali sebelum kita berpisah Wallpaper handphoneku menjadi candu sebelum aku tidur dimalam hari, wallpaper dengan wajahku yang tersenyum dan kamu yang berwajah aneh disebelahku. Dulu sekali, sebelum kita berpisah Aku selalu ingat wajahmu, wajah yang pernah kubuat tertekuk marah karena aku bercerita tentang pria lain. Dulu sekali, sebelum kita berpisah Kau selalu berhasil membuatku patah hati karena sangat banyak yang mengejarmu kala itu. Dulu sekali, sebelum kita berpisah Aku selalu ingat janjiku sepuluh tahun lagi, janjiku tak ingin mencintai pria lain selain kamu sebelum sepuluh tahun lagi. Sekarang, setelah kita berpisah Kamu tetap menjadi yang pertama. Wallpaper handphoneku tetap kamu. Wajahmu itu sudah memburam di ingatanku, sudah sangat lama hingga membuat memoriku ber-abu. Kau selalu membuatku patah hati ketika mengingat wanita mana saja yang mengejarmu dulu. Dan sampai sekarang, setelah kita berpisahpun, aku masih dijanjiku, aku belum mencintai pria manapun sekarang. Masih tetap kamu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines