EMBUN SELASA PAGI

EMBUN SELASA PAGI

  • WpView
    Reads 32
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Fri, Sep 13, 2019
Di depan rumah yang berdekatan dengan panggung acara tersebut, mataku enggan untuk berlalu. Pernak-pernik makanan menghiasi meja panjang. Namun bukan itu yang kumaksud. Dia yang ada di sana. Berdiri sambil memandang ke depan. Memancarkan Nur dari segala arah. Mungkin hanya aku yang peka. Tak tahu bagaimana dengan Lelaki lain yang ada di sana. Semoga ini awal pertemuan kita...
All Rights Reserved
#963
hujan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hujan dan Sebuket Dandelion
  • Naura & Lukanya
  • Love Story Of Sharga & Ahra ✅(Tamat)
  • Senja Yang Sunyi
  • AYLIN
  • Air Jernih yang Menghitam
  • RAYGARA (SELESAI)
  • INVISIBLE WOUNDS: Transmigrasi Jiwa
  • Lentera Cinta Di Muara Rindu
  • Capuccino Sore Itu  ✅ [Tamat dan sudah Direvisi]

Ini tentang keluarga. Juga tentang hujan yang indah. Seperti halnya Naradra Carolina Abastra. Penyuka kaos oversize juga celana training yang sedikit kepanjangan. Gadis biasa-biasa saja dengan rambut panjangnya yang tergerai bebas. Ketika rintik-rintik hujan saling berjatuhan hingga berubah deras. Dia selalu ada untuk melihatnya menyambut bumi. Menciptakan suara melodi yang indah, dibalik awan gelap. Begitu juga dengan bunga dandelion, indah dengan caranya sendiri. Terbang bebas tanpa takut terlihat berbeda. Karena itu Nara suka dengan keduanya. Namun kekakuannya hanya satu, yakni seorang Damantara Gusti Pangestu. Lelaki dengan rambut kecoklatan dan kacamata bulat yang bertengger sempurna menghiasi wajahnya. Bukan laki-laki culun juga berandal. Gusti selalu berhasil menjungkir balikkan hatinya. Dengan mata hitamnya yang memikat. Sayangnya, dia bergerak untuk sebuah rahasia kelam. Namun, jika waktu terus mengikis rahasia yang selama ini mereka tutup. Apakah Tuhan masih memberi kesempatan untuk bersama? Atau justru mereka sendiri yang akan pergi, meninggalkan jejak yang kian dalam? __________________________________________________ Gusti menghela napas. "Mau tau sesuatu?" matanya menatapku begitu serius. "Sesuatu?" Laki-laki itu mengangguk. "Tentang semua ini, yang mungkin buat lo risi?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines