Kesadaran Diri

Kesadaran Diri

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 13, 2019
WpInfo
Non-Fiction
Tagscerpen
Minggu adalah hari libur yang membuat orang malas beraktivitas. Ada yang memilih berlibur tapi ada pula yang memilih tinggal di rumah melepas lelah setelah menyelesaikan penuh dengan aktivitas. Begitu pula dengan Kelvin, dia memilih untuk bersantai di rumah. Sampai-sampai setelah hari Minggu Kelvin masih belum siap menghadapi aktivitas sekolah yang sudah dibatalkan. "Vin, kamu tidak berangkat sekolah? Ini sudah siang lho. Nanti telat. "Tanya Ibu. "Kelvin masih capek, Bu. Bolos sehari saja gak papa. Lagian gak ada PR dan tes kok. Santai saja, Bu. " "Ya jangan begitu. Kamu sekolah itu bayar. Menuntut ilmu tidak bisa disepelekan begitu saja Vin. "Jawab setuju Ibu menyanggah. "Sudahlah bu, Kelvin masih ngantuk mau tidur lagi." Melihat gelagat putranya, ibunya menjadi geram dan menyeret putranya ke suatu tempat. Kemudian ibunnya mengajaknya ke panti asuhan yang dibagikan anak-anak dengan latar belakang yang berbeda. "Nah, tuh, lihat mereka. Tak ada orang tua yang membiayai sekolah padahal mereka juga ingin sepertimu. "Jelas ibunya memberi tahu melalui kaca dalam mobil. Kemudian bertanya sambil menunggu anak-anak yang mengamen di jalanan. "Lihat anak itu, dia mengemis mencari uang. Untuk makan susah sekolah lagi. "Jelas lagi. Kemudian Kelvin sadar dan akhirnya mau berangkat sekolah walau agak terlambat. Dia diantar ibunya sampai ke sekolah. Di perjalanan dia melihat anak sekolah yang berjalan pincang, dalam hati dia berkata "Beruntungnya aku, masih punya fisik yang sempurna tapi malah malas sekolah. Sementara anak cacat saja bisa semangat seperti itu. " Sejak hari itu Kelvin menjadi sadar akan dirinya. Kelvin menjadi rajin berangkat sekolah dan giat belajar.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Fractured Cheerfulness (On Going)
  • Albel
  • ALRIN
  • DANADYAKSA
  • Gadis Yang Malang
  • ELGITA: Yang Tak Pernah Terucap (END)
  • Puing luka
  • I L A L A N G ✔ (Tamat)
  • ALYA

"Lo beneran bego, Fin. Gimana sih, gini aja lo ga ngerti-ngerti?" Satria menggelengkan kepala frustasi. Alfina cuma bisa cengengesan. "Jangan bosen ngajarin gue, ya." Di balik senyum yang tak pernah hilang, Alfina Adzra Wardana adalah anak yang terjebak di antara dua dunia. Dunia di mana dia terlihat ceria, ekstrovert, dan penuh semangat. Tapi ketika bel tanda pelajaran berbunyi, dia lebih memilih untuk menghindar daripada berhadapan dengan angka, rumus, atau teori-teori yang malah bikin pusing. Matematika? Ekonomi? Hanya kata-kata kosong yang dia coba terjemahkan dengan senyum yang terus dipaksakan. Satria, cowok yang dipaksa jadi tutor pribadi Alfina, udah sampai titik frustasi. "Lo bener-bener bego!" katanya, meskipun di balik itu, dia enggak bisa menahan rasa kagum pada dunia Alfina yang penuh warna dan seni. Karena ada satu hal yang Alfina tahu dengan pasti: dunia seni adalah tempat dia bisa bersinar. Setiap goresan kuas di kanvas adalah tempat dia bisa bebas, tanpa perlu penilaian orang lain. Tapi di rumah dan di sekolah, ada satu sosok yang terus dibandingkan dengan Alfina-adiknya Thalita, yang cerdas dan selalu jadi juara kelas. Alfina merasa dirinya selalu kalah. Di balik kebingungannya dan perasaan tak cukup, Alfina mencoba menemukan cara agar bisa berjuang untuk dirinya sendiri. Tapi, apakah itu cukup? Dan di tengah semua itu, apakah Satria, yang frustrasi mengajar, bisa melihat potensi besar dalam diri Alfina yang selama ini dia abaikan? Apakah Alfina bisa melepaskan diri dari bayang-bayang adiknya? Apakah Satria bisa melihat lebih dari sekadar kegagalannya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines