Amel Aruna tidak sedang mencari cinta.
Ia hanya ingin ditemani didengar, dihargai, dan dianggap ada.
Lalu datang Alvin Pratama.
Seseorang yang selalu hadir di saat lelah,
mengerti tanpa banyak tanya,
dan memberi rasa nyaman tanpa janji apa pun.
Hubungan mereka berjalan tanpa status,
tanpa arah yang pasti,
namun terasa cukup... untuk sementara.
Sampai Amel menyadari satu hal:
nyaman tidak selalu berarti dipilih.
Di antara kebiasaan yang terasa seperti rumah
dan kehadiran yang tak pernah benar-benar menetap,
Amel harus belajar menentukan batas antara bertahan karena rasa,
atau pergi demi dirinya sendiri.
Nyaman Tapi Tak Dipilih
adalah cerita tentang kedewasaan,
tentang perempuan yang berhenti menjadi tempat singgah,
dan memilih pergi dengan tenang
meski hatinya masih ingin tinggal.