WHEN I LOVE YOU

WHEN I LOVE YOU

  • WpView
    LECTURAS 22
  • WpVote
    Votos 2
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadConcluida dom, sep 15, 2019
Aku hanyalah erungan jiwa yang terombang-ambing diantara kehidupan dan kematian. Biarkan aku,senja dan kematian yang menggenggam sepenggal rasa ini. Dan benar adanya aku dan kamu hanyalah ilusi belaka. Bahkan sampai aku menutup mata untuk selamanya kita hanyalah untaian kata yang belum usai menjadi kalimat. Ruangan serba putih dan suara mesin pendeteksi detak jantung berbunyi di ruangan sunyi. jasad yang terkulai lemah di atas bangsal rumah sakit dengan kabel kabel yang menopang hidup yang tertancap di tubuhnya. Ia bernapas, berdetak namum kelopak nya tetap setia menutup mata. Wajah manis nya selalu membuat orang di sekitarnya tertipu olehnya, seolah-olah ia adalah benar benar manusia kuat seperti yang orang kira selama ini. "Lo harus bangun,ayo bilang ke dia kalo lo cinta sama dia." Ucap salah seorang yang selalu setia menemani nya. Dengan sekuat tenaga jari yang tadinya terkulai lemas kini terangkat disambung dengan mata yang sedari tadi mencoba untuk terbuka. When i love you | Na Jaemin
Todos los derechos reservados
#20
koreastory
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • KARAFERNELIA
  • King of Demigod : Into The New World
  • It's Always Been You✔️
  • CRAZY IN LOVE ; Jaeyong 🔞
  • Docter [END] [-REVISI)
  • BECAUSE NOONA
  • Ghost And Love || Park Jisung and Ningning aespa
  • Devil's Ginkgo
  • New Life As Undead {REVISI}
  • Love Story

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido