ALLETA
  • WpView
    Reads 0
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 14, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
"Juna, lo mau gak jadi pacar gue?" tanya Alleta. "Gak," jawab Juna. "Kalau besok, lo mau gak jadi pacar gue?" sekali lagi Alleta bertanya pada Juna. Juna mendengus kesal. "Gak," sekali lagi Juna menjawab dengan nada jengah. "Kalau besok nya lagi?" ok gadis ini benar-benar pantang menyerah. "Nggak." "Kalau minggu depan? Bulan depan? Tahun depan?" Alleta bertanya tanpa henti membuat Juna benar-benar pusing. Dengan kesal Juna menjawab, "gak." Alleta mengerucutkan bibirnya. Kenapa sih susah banget.
All Rights Reserved
#4
trublemaker
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • TANTAN ; with you [ ON GOING ]
  • DRABIA [END]
  • A For Z : Young Married [SLOW UP, CUTI LAHIRAN DULU GAES]
  • BAD BOY SEKOLAH (SELESAI)
  • From Amaretto
  • After J (Complete)
  • (Not) A Dream School (On Going)
  • Semu [Completed]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines