Story cover for Anonim by Sendy_FN
Anonim
  • WpView
    Reads 64
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 3
  • WpView
    Reads 64
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 3
Ongoing, First published Sep 14, 2019
"Jadi, kau ingin kisah seperti apa?" ucapnya seraya memasukkan tangannya ke saku celana abu-abu dengan sabuk hitam itu. Ah, gaya menyebalkan itu lagi. Mengapa dia sangat suka berdiri dengan gaya seperti itu? Maksudku, ini sangat tidak adil! Mengapa dia bisa sangat keren hanya dengan berdiri?

"Apa maksudmu?" ucapku mendongak, menatap mata cokelat hangatnya dengan senyum tipis di wajah yang berhias alis simetri dan bulu mata yang indah, serta poni yang menutupi dahi.

"Walaupun aku bukan sutradaranya, setidaknya izinkan aku mengabulkan mimpimu. Kau ingin apa? Cinta semanis Romeo dan Juliet? Kata-kata seromantis Dilan? Atau apa? Katakan." Ah, seperti adegan di komik saja, mengapa ada angin menghempas poninya? Mengapa itu membuatnya jutaan kali lebih tampan?

"Jika dengan mengabulkan itu artinya kamu jadi milikku, aku siap melakukan apa saja," tandasnya, membuat aku membulatkan mata. Maksudku, hey! apa dia becanda? Aku ini terlalu marimas untuk dia yang starbucks.

Dia berasal dari keluarga kaya, kepopuleran luar biasa, dan ketampanan yang tidak manusiawi, bahkan berada di sampingnya saja membuatku merasa seperti debu yang terbang di sebelah bongkah berlian.

"Hey pinggiran gelas, aku bicara padamu!"
All Rights Reserved
Sign up to add Anonim to your library and receive updates
or
#261harapan
Content Guidelines
You may also like
KEPINCUT BRONDONG  by Dorie_Kusuma
29 parts Complete Mature
18+ Peringatan! Cerita ini bisa membuat kamu cengar-cengir gajelas. Yang butuh bacaan ringan buat hiburan penghilang stres, kamu berada di tempat yang tepat. *Kepincut Brondong sinopsis: "Gue mau jadi pacar lo. Buat tiga bulan doang. Gimana?" Aku mencoba bernegosiasi. "Ha? Tiga bulan? Apaan tuh tiga bulan? Bentar amat? Kredit hape aja lima bulan, Kak." Ijun terheran. "Mau enggak? Kalo lo enggak mau ya udah. Mending lo ga usah jadi pacar gue. Jadi anak pungut gue aja!" kataku sembarangan. "Kesannya kita pacaran kayak main-main kalo kek gitu, Kak." "Ya emang main-main. Lo ngarep apa? Pacaran srius sama cewek yang empat taun lebih tua dari lo? Lo masih waras, kan?" "Tapi gue beneran suka sama lo, Kak." "Ga papa! Itu wajar. Selama lo suka sama cewek, itu artinya lo normal," tanggapku. "Tiga bulan yah?" Ijun nampak menimbang. Aku mengiyakan sambil tersenyum geli. Dalam hati aku menertawakan kegilaanku ini. "Setelah tiga bulan?" Ijun mulai tertarik. "Kita putus. Gue mau cari pacar baru, dan lo juga boleh cari pacar baru." "Kalo lo malah jatuh cinta sama gue?" tanya anak itu percaya diri. Buju buneeengg ... pede banget lo Ijuuunn ... aku tertawa saja. "Kalo gue jatuh cinta sama lo, lo harus bawa gue ke rumah sakit jiwa. Karna pasti gue udah enggak waras." ____ Pacaran sama bocah SMA? Oohh ... aku pasti sudah gila! Tapi anak itu tampan dan menggemaskan. Dan lebih dari itu, dia datang saat hatiku hancur lebur karna dihianati. Benar, Ijun datang mengisi kehampaanku. Tapi benarkah aku jatuh cinta pada Brondong yang usianya lebih muda empat tahun dariku? Yang benar saja!
You may also like
Slide 1 of 10
GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT) cover
KEPINCUT BRONDONG  cover
ROMANCE FROM HIGH SCHOOL cover
Auristela cover
Kamu Yang Kusuka cover
Stres In Life cover
Badai Tak Berujung [ON GOING] cover
ONE MORE cover
Memories in Moon cover
Partfect cover

GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)

24 parts Complete

"Iya sih, enggak penting juga. Enggak ada hubungan juga sama gue, cukup tahu aja," Mince mengambil tisu lalu mengusap air mata dan terkekeh. Ia hanyalah sebagian keryawan kecil di sini. "Udah jangan sedih lagi, nanti nyokap lo tambah sedih liat lo kayak gini," "Iya sih," "Makan yuk, udah jam 12 nih, gue laper," Dina menenangkan Mince. Mince menarik nafas menatap form form yang ada di atas meja, "Tapi kerjaan gue banyak," "Udahlah dikerjain nanti aja, lo harus makan dulu biar kuat," "Kuat ngapain?," "Kuat bercinta," timpal Dina. "Itu sih lo, bukan gue," Seketika Dina tertawa ia melirik Mince berdiri di sampingnya, "Bercinta itu asyik tau," "Ya asyiklah, kalau enggak asyik orang enggak mungkin bela-belain bulan madu sampai ke ujung dunia demi buat anak banyak-banyak," ucap Mince asal, melangkah keluar dari office. "Emang lo pernah ngerasain?," "Enggak," "Nanti kalau udah punya pacar dicoba aja," "Ogah," "Enak tau," "Ih apaan sih lo," "Gue pernah coba sama pacar gue, rasanya enak," "Ih ...," "Makanya cari cowok, biar bisa enak-enak," "Ih Dina !, lo apa-apaan sih cerita ginian," "Biar lo tau lah," "Asemmm," Tawa Dina kembali pecah, mereka berjalan menuju EDR. Ia senang melihat Mince kembali tertawa. Ia tahu bahwa wanita cantik ini begitu menyayangi ibunya lebih dari apapun. Sehingga rela menjual barang berharga miliknya demi pengobatan sang bunda. Ia sengaja berbicara seperti ini demi melihat tawa Mince.