Anonim

Anonim

  • WpView
    Reads 73
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Oct 12, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
"Jadi, kau ingin kisah seperti apa?" ucapnya seraya memasukkan tangannya ke saku celana abu-abu dengan sabuk hitam itu. Ah, gaya menyebalkan itu lagi. Mengapa dia sangat suka berdiri dengan gaya seperti itu? Maksudku, ini sangat tidak adil! Mengapa dia bisa sangat keren hanya dengan berdiri? "Apa maksudmu?" ucapku mendongak, menatap mata cokelat hangatnya dengan senyum tipis di wajah yang berhias alis simetri dan bulu mata yang indah, serta poni yang menutupi dahi. "Walaupun aku bukan sutradaranya, setidaknya izinkan aku mengabulkan mimpimu. Kau ingin apa? Cinta semanis Romeo dan Juliet? Kata-kata seromantis Dilan? Atau apa? Katakan." Ah, seperti adegan di komik saja, mengapa ada angin menghempas poninya? Mengapa itu membuatnya jutaan kali lebih tampan? "Jika dengan mengabulkan itu artinya kamu jadi milikku, aku siap melakukan apa saja," tandasnya, membuat aku membulatkan mata. Maksudku, hey! apa dia becanda? Aku ini terlalu marimas untuk dia yang starbucks. Dia berasal dari keluarga kaya, kepopuleran luar biasa, dan ketampanan yang tidak manusiawi, bahkan berada di sampingnya saja membuatku merasa seperti debu yang terbang di sebelah bongkah berlian. "Hey pinggiran gelas, aku bicara padamu!"
All Rights Reserved
#95
skala
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Not Me & Not Mine
  • Partfect
  • ONE MORE
  • THE CLIMB [Completed]
  • Because I'm Stupid (End)
  • Hiraeth to Everlasting Sun
  • JATUH GAK CUMAN SEKALI
  • 36 days with you {saida} [End]
  • Kamu Yang Kusuka
  • GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)

Tak ada kesalahan tanpa adanya sebuah perbuatan, begitu pula dengan kisah Zara dan Rafif-dua hati yang, entah bagaimana caranya, selalu kembali bertaut meski diwarnai begitu banyak perbedaan. Zara, seorang perempuan yang selalu berusaha memahami, menerima Rafif apa adanya, termasuk sifat kekanak-kanakannya yang sering kali membuatnya menghela napas panjang. Setiap kali dia menunjukkan sisi inner child-nya di saat-saat yang tak terduga, Zara tak bisa menahan diri untuk menyipitkan mata, menatapnya dengan ekspresi antara geli dan tidak percaya. "Kamu selalu bilang bisa menerima aku apa adanya, tapi tiap aku bersikap begini, ekspresimu langsung berubah," Rafif bersedekap, bibirnya mengerucut seakan protes. Zara mendesah pelan, menyilangkan tangan di dada. "Bagaimana tidak? Kadang kamu bisa bertingkah seperti anak kecil, bahkan di tempat umum," ucapnya, setengah gemas setengah tak habis pikir. Cinta mereka bukanlah kisah yang selalu berjalan mulus. Ia tumbuh dengan caranya sendiri-kadang seperti bunga liar yang mekar tanpa aturan, kadang seperti lukisan abstrak yang penuh warna namun sulit untuk didefinisikan. "Ambil sepatumu dan pakai, Rafif. Di tempat seperti ini pun kamu tetap saja menyusahkan," ujar Zara, matanya melirik ke arah kaki Rafif yang masih telanjang di lantai dingin. Rafif terkekeh kecil, tidak tergesa-gesa mengambil sepatunya. "Aku cuma menunggu kamu dulu sebelum pakai sepatu," katanya ringan. Zara menghela napas lagi. "Aku pergi sebentar beli makanan, bukan pergi selamanya," ia menyodorkan sesuatu pada Rafif. Sekejap mata Rafif berbinar begitu melihat apa yang ada di tangannya. "Wah! Es krim kesukaan kita! Aku mauu~" serunya penuh semangat, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah. IG/aqieff_bhlwn Tiktok/elsyaqief

More details
WpActionLinkContent Guidelines