We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
because there's

because there's

  • WpView
    Reads 18
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Sep 18, 2019
WpInfo
Fiction
Mystery
Tak ada yang tahu dia siapa setelahnya, dia hanya menghabiskan waktu untuk pergi mengabaikan hal yang terjadi di masalalu, di bantu satu-satunya sahabat yang di anggap kakak lelaki untuknya, dia adalah Night fox. "T-tolong lepaskan aku !! a-aku tak punya masalah denganmu !!!" Permohonan yang hampir selalu dikatakan oleh setiap orang yang bertemu dengannya. Seolah dia yang bisa menjadi pemegang kunci penyelesaian dari segala pemegang. "Ah...maafkan aku, aku terlalu menyukai ekspresi yang kau buat saat ini, jadi aku tidak tahan untuk melepaskanmu" Nada itu terdengar menyesal tetapi senyum tak pernah hilang dari wajah cantik itu, dia mengangkat tangannya untuk menyelesaikan yang selanjutnya. "Adik, kenapa kau selalu suka bermain ?" Tanya seorang pemuda yang muncul di sudut gang, wajahnya tak terlihat karena tertutup kegelapan malam, yang memang saat ini sedang mendung. "Kakak, aku hanya suka melihat wajah mereka saat mereka memohon" Diiringi dengan senyum lembut nan indah seperti bunga di musim semi yang baru datang.
All Rights Reserved
#38
illness
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Elegi Rasa : Pergi
  • She is fake nerd?✔(Proses Revisi)
  • Legatha [END]
  • Edgar : Between Chaos and You
  • Ketika Waktu Bersamamu
  • BETWEEN US, SILENCE [END]
  • The Dark Side(END)
  • Abu Abu [ completed ]

Kadang menjadi begitu terlambat menyadari sesuatu akan membekaskan rasa sakit yang tak lekang oleh waktu. Saat cerita yang kelewat singkat dilalui menghantarkan pada sakit yang menghantui. Safir sudah merasakannya. Dua kali dalam hidup ia seperti dipermainkan rasa. Nila yang tak mau melihat. Dan Bianca yang pergi pada sesuatu yang tak terlihat. Ketika sepi melanda. Bukannya pada dunia yang luas, hanya pada dunianya sendiri yang tiba-tiba runtuh. Safir merasa begitu buruk di mata Bianca. Merasa begitu lelah di hadapan Nila. Dan malam itu, harusnya ia berusaha lebih keras. Saat si gadis berkata, "Aku pamit pulang, ya." Harusnya Safir membujuk lebih tegas. "Biar aku yang antar." Kenyataannya, Safir menjadi begitu terlambat. Saat rasa itu mulai tertambat. Hatinya justru sakit tanpa ada yang membebat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines