We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Ketika Dia Bukan Untukku

Ketika Dia Bukan Untukku

  • WpView
    Reads 81
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 22, 2021
WpInfo
Fiction
Social Themes
Aku hanya bisa menangis sambil mendekap lututq erat-erat. Enggan rasanya untuk mengangkat wajahku yang sangat basah dengan air mata ini. Walaupun aku tau, ada derap kaki yang melangkah mendekat ke arahku. "Aya, jangan seperti ini!! Dengerin dulu penjelasanku!!" Suara baritonnya memenuhi ruangan kamarku yang lumayan luas itu. Aku tak meresponnya, aku tak sanggup mengatakan apapun. Untuk mengangkat wajah dan melihatnya pun aku tak mau. Aku masih sesenggukan dengan deraian air mata yang tak mau berhenti mengalir dari dua pelupuk mata ini. Sampai aq mendengar ada derap kaki orang lain yang juga mendekat ke arahku " Keluar dari sini" suara lantang dan sangat kukenal itu mengusir sosok itu dari hadapanku.
All Rights Reserved
#452
fiktif
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • JATUH CINTA LAGI
  • Aku Mati Rasa Perihal Cinta
  • You're Here, But Not For Me
  • Hello!! my Husband [END]
  • AILAH(END)✅
  • Neyralgis||On Going
  • Pertemuan yang tidak disengaja [ END ]
  • Jodoh Gak Akan Kemana || un1ty  [END]

[COMPLETED] "Jadi lelaki itu yang akan dijodohkan ibu denganku? Tega sekali, Ibu," gerutuku. Aku semakin membulatkan tekadku untuk menolak ini. Tanpa kusadari, ibu melihat ke arah jendela kamarku dan melihatku kesal. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar diketuk. "Baby, buka pintu!" Pintanya tegas. Aku pun membukakan pintu. Lalu menelungkupkan badanku di atas kasur. Ibuku menarik kursi belajarku mendekat ke arahku dan memandangiku, lalu berkata pelan padaku. "Kau tahu sendiri kan kebiasaan di sini? Kau juga tahu asal usulmu? Kau paham betul, bagaimana ibumu ini bertahan? Semua karena ibumu ini sepakat dengan norma di sini. Mana mungkin kita bisa hidup cukup seperti ini kalau tidak mengikuti itu semua. Baby, kau tahu itu semua. Harusnya kaupun seperti ibumu ini, ikut arus itu." Melihatku tidak memandangnya, ibu terus mengatakan hal-hal yang sebenarnya kami berdua sama sama tahu. "Ibu menikah dengan bapakmu ketika seusiamu. Dengan itu, ibu bisa memiliki rumah ini dan seperangkat alat jahit. Ibu mampu membesarkanmu, menyekolahkanmu, memenuhi segala keinginanmu, dan tidak pernah menyusahkan orang lain. Kau memang tidak pernah bertemu bapakmu, tapi ibumu ini sudah bercerita tentangnya." "Kita hidup tanpa kekurangan. Bahkan bisa membantu sesama. Kita pun hidup bahagia. Mereka yang juga melakukan ini pun juga sama." "Menikah bukan sesuatu yang salah, Baby." Ibuku mengakhirinya dengan kalimat itu, lalu berdiri hendak keluar kamarku. "Tapi menjanda di usia muda bukan keinginanku, Bu." Balasku sebelum ibu keluar kamar. Ibuku berhenti sejenak, kemudian keluar dari kamarku. Happy reading~ Jangan lupa untuk: √ Vote √ Coment √ Kritik dan Saran Hargai author dengan vote, terimakasi💞

More details
WpActionLinkContent Guidelines