Andriadna Zafir

Andriadna Zafir

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 7, 2019
" Aku hargai kebaikanmu, katakan kau ingin apa...mobil, rumah, lahan, jabatan?" tanya Zafir menawarkan imbalan. Adna menatap jengah terhadap sosok yang tampak sombong dihadapannya, padahal dia hanya butuh ucapan terima kasih. cukup itu saja. " Tawaran Anda tidak ada artinya bagi saya". Zafir menyeringai, merasa beruntung dengan penolakan Adna. "Baguslah, setidaknya aku sudah tidak punya hutang lagi akan janjiku, Kau sendiri yang menolaknya" jelas Zafir hendak pergi begitu saja. Adna semakin muak melihat kesombongan Zafir yang melangit, Ia pun tanpa sadar meminta sesuatu yang membuat Zafir terperanjat tak percaya. " Janji adalah janji, saya tidak butuh dengan tawaran anda, nikahi saya dan terimalah anak yang saya kandung".
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Maaf, Cakra!
  • Mencari Istri Baru untuk Suamiku
  • tentang sebuah rasa
  • Shaffira ✔ (KBM & KARYAKARSA)
  • PEREMPUAN YANG MENCINTAI HUJAN
  • Aruna (Terjerat Cinta Dan Benci)
  • this is the story of my life - Afshenna Yara Carlotta
  • DIKANESHA

🐥Please vote setelah membaca🐥 "Mungkin bagimu pernikahan kita tidak ada artinya, Tapi bagiku pernikahan ini sangat berharga, meskipun didasari oleh perjodohan dan tidak ada cinta didalamnya." lirih Cakra Zalendra menatap istrinya lekat "Jadi mau kamu apa? Aku tidak mencintaimu dan tidak akan pernah, didalam hatiku ada seseorang yang ku inginkan untuk jadi suamiku dan itu bukan kamu." kata Nafisa Zavira tanpa menoleh sedikitpun pada lelaki yang saat ini menjadi suaminya "Aku tidak menginginkan sesuatu yang berat. belajarlah mencintaiku, Jadilah istri yang baik untukku, kamu pikir aku mencintaimu? Tidak sama sekali, tapi aku menerima pernikahan ini dengan ikhlas" sang suami menunduk, bulir air mata lolos begitu saja melewati pipi "Menurutmu itu adalah hal yang mudah, bagiku sangat sulit, Aku akan tetap melaksanakan tugasku sebagai istri, tapi aku tidak yakin untuk mencintaimu." Nafisa mengelus pipi suaminya. diseka air mata itu "Ya. setidaknya kau masih mau menerima pernikahan ini." Cakra tersenyum "Setidaknya untuk saat ini." Nafisa menatap wajah sang suami lekat. Cakra mengangguk Bagaimana kelanjutan kisah perjodohan Cakra dan Nafisa? Apakah akan ada cinta yang hadir di hati Nafisa untuk suaminya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines