Andriadna Zafir

Andriadna Zafir

  • WpView
    LECTURAS 10
  • WpVote
    Votos 2
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, oct 7, 2019
" Aku hargai kebaikanmu, katakan kau ingin apa...mobil, rumah, lahan, jabatan?" tanya Zafir menawarkan imbalan. Adna menatap jengah terhadap sosok yang tampak sombong dihadapannya, padahal dia hanya butuh ucapan terima kasih. cukup itu saja. " Tawaran Anda tidak ada artinya bagi saya". Zafir menyeringai, merasa beruntung dengan penolakan Adna. "Baguslah, setidaknya aku sudah tidak punya hutang lagi akan janjiku, Kau sendiri yang menolaknya" jelas Zafir hendak pergi begitu saja. Adna semakin muak melihat kesombongan Zafir yang melangit, Ia pun tanpa sadar meminta sesuatu yang membuat Zafir terperanjat tak percaya. " Janji adalah janji, saya tidak butuh dengan tawaran anda, nikahi saya dan terimalah anak yang saya kandung".
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • PEREMPUAN YANG MENCINTAI HUJAN
  • BENCI- Benar Benar Cinta
  • Mencari Istri Baru untuk Suamiku
  • this is the story of my life - Afshenna Yara Carlotta
  • tentang sebuah rasa
  • Aruna (Terjerat Cinta Dan Benci)
  • Masa Itu ✔ (Tamat di Karyakarsa)
  • Maaf, Cakra!
  • Shaffira ✔ (KBM & KARYAKARSA)

Semua orang menunggu dengan dada berdegup kencang. Kabar yang berembus sejak semalam tentang badai yang mengamuk di tengah lautan, membuat masyarakat pesisir pantai dilanda kecemasan. Begitu juga dengan Sekar, anak perempuan Haji Zainal juragan kapal, dirundung kegelisahan. Ia tak bisa nyenyak tidur semalam, pikirannya terus saja melayang pada Azzam yang terombang-ambing di atas kapal. Saat mentari belum sepenuhnya terjaga, Sekar berlari menuju dermaga. Kakinya melangkah cepat. Gerimis dari sisa hujan semalam tak dihiraukannya. Panggilan Haji Zainal juga tak digubrisnya. Pelabuhan telah ramai orang menunggu dalam diam. Semua mata memandang ke arah lautan dengan tatap penuh pengharapan. "Cuaca sedang tidak bagus, Bang. Angin barat mulai datang." Sekar menjawab sambil merunduk saat Azzam berpamitan di halaman belakang. Azzam yang kala itu harus mengambil jaring di gudang belakang, tanpa sengaja bertemu dengan Sekar. "Doakan saja Abang, ya. Insya Allah tidak ada apapun yang akan terjadi." Suara Azzam bagai obat penenang bagi Sekar, gadis itu mengangguk perlahan. Ikhlas melepas kekasihnya pergi berlayar ke tengah lautan. Sekar sudah merapal doa sepanjang siang, bahkan hingga malam. Apalagi ketika hujan deras mulai turun disertai angin kencang, Sekar tak henti memutar biji tasbihnya, mendoakan sosok lelaki yang ia harap kelak menjadi imam dalam hidupnya. Sekar mengusap matanya yang basah. Matahari telah sepenuhnya menampakkan diri, membelai kulit Sekar yang mulai kemerahan. Banyak kapal yang sudah bersandar, tetapi kapal yang dinaiki Azzam belum keliatan ujung haluannya. Seseorang menepuk bahunya, ia menoleh. Haji Zainal telah berdiri di belakang Sekar menyusulnya. "Ayo, pulang, Nduk. Apa yang kau cemaskan?" Sekar tidak menjawab ajakan bapaknya, matanya tetap awas mengamati satu persatu perahu yang mulai menurunkan jangkarnya. Semua orang tersenyum penuh kelegaan, kecuali dirinya yang masih termangu di ujung dermaga menunggu kepulangan Azzam.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido