That Is NOT LOVE

That Is NOT LOVE

  • WpView
    Reads 12,322
  • WpVote
    Votes 1,635
  • WpPart
    Parts 41
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 20, 2020
WpInfo
Fiction
Action and Thriller
19 September 2019 #1 Jirralova #2 Jirralovers "Gue gak terobsesi. Gue cin... "Itu bukan Cinta, Zoya.! Gue tegasin ke loe. Itu Bukan Cinta.!" Zoya membelalakkan mata mendengar bentakan Vino dikalimat itu. Vino melepas dekapannya sehingga Zoya terbebas. Bersamaan dengan itu, ia mengunci gerak Dimas mengarahkan pistol dipelipis kepalanya. Keadaan parkiran sepi, hanya ada mereka bertiga. Semua karyawan Zoya tengah sibuk dengan waktu istirahat mereka. Sehingga tak ada yang melihat kejadian itu. "Kalo loe beneran cinta sama dia, ambil pistol yang satunya disaku celana gue. Dan tarik pelatuknya dikepala gue sebelum gue narik pelatuk ini." Ujar Vino. "Kenapa.?? Loe gak berani nembak gue, padahal gue mau jahatin orang yang loe cintai ini.??" Vino menekankan kata cintai pada Zoya.
All Rights Reserved
#379
obsesi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Amor Eterno
  • Rumah Tanpa Atap
  • CALIX: Dark Embrace! [SELESAI]
  • Four Is Too Much
  • "Between Revenge & Love" /Lanjutan/ (END)
  • When A Snail Falls In Love
  • CINTA DAN BENCI
  • Senja Di Kegelapan Malam [HIATUS]
  • Sweet But Obsessive
  • Sang Tunangan Matheo (End)

"Lo mau hubungan kita jadi kayak apa, Harlen?" Qila menghentakkan tangan pria itu, lalu menoleh cepat dengan sorot mata tajam. Suaranya bergetar-bukan karena takut, tapi karena menahan amarah yang sudah terlalu lama disimpan. "Aku... aku pengin hubungan kita jadi lebih serius," jawab Harlen pelan, nadanya seperti memohon. "Serius?" Qila tertawa miris. "Serius kayak gimana? Kayak lo yang tiba-tiba udah punya tunangan tanpa bilang apa-apa ke gue?" Harlen terdiam, tak sanggup membalas. "Atau lo mau gue jadi simpanan, gitu? Tapi sayangnya, Harlen, gue bukan cewek murahan kayak gitu," lanjut Qila sambil memutar bola matanya, malas sekali menatap wajah pria di hadapannya. "Bukan gitu maksud gue..." Harlen mencoba meraih tangan Qila lagi, tapi kali ini pun langsung ditepis. "Gue capek dengar omongan lo yang manis-manis tapi ujung-ujungnya nyakitin. Lo bilang pengin serius? Lo bilang pengin perkenalin gue ke orang tua lo? Please, Harlen. Udah telat." "Qila, tolong dengerin dulu..." "Cukup." Qila menarik napas dalam-dalam, menahan emosi yang hampir meledak. "Ini terakhir kalinya kita ketemu. Setelah ini, gak akan ada lagi 'kita'. Gak sengaja ketemu pun, gue harap itu gak akan pernah kejadian. Gue muak liat muka lo." Langkahnya cepat, pergi meninggalkan Harlen yang masih berdiri mematung di tempat. Tapi Harlen belum menyerah. "Qila! Tunggu, dengerin dulu!" Namun Qila tetap berjalan, masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya di pinggir jalan. "Jalan, Pak," ucapnya pada sopir. Taksi pun mulai melaju. Dari kaca belakang, bayangan Harlen terlihat masih mengejarnya, berteriak, memanggil namanya. "QILAAAA!" Tapi Qila tak menoleh. Tatapannya lurus ke depan, seolah tak ada apa pun di belakang yang layak dilihat kembali. Dalam hati, ia berbisik, Maaf, Harlen... tapi kali ini aku benar-benar udah gak sanggup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines