SABITA
  • WpView
    Reads 1,342
  • WpVote
    Votes 176
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 28, 2019
Sabita berteriak kencang dan mencoba melepaskan cekalan dari sosok yang perlahan ingin berdiri dengan menaikan tangan dinginnya pada kaki Sabita. Sabita mencoba melepaskannya tetapi tidak bisa. Seolah tangan dari sosok itu adalah lem perekat. Sangat mengerikan. Kepalanya hancur. Terlihat banyak bekas cambukan di sekujur tubuhnya. Sosoknya bertelanjang. Rambut gelombang sampai punggung. Banyak bekas cakaran juga di sekitar kakinya. Dan yang paling mengenaskan lagi, buah dadanya hancur. Membuat dada Sabita terasa nyeri. "Tolong!" percuma meminta tolong. Tidak ada siapapun disini.
All Rights Reserved
#2
penuliskece
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Why you Comeback
  • Yang Pernah Patah
  • BROKEN HEART [END]
  • ASMARALOKA || Love or Reality?
  • A GA TA || Lee Jeno [COMPLETED]
  • Is Died
  • MISTERY KEMATIAN CLARA (SELESAI)
  • Vericha Aflyn ✔️
  • Kutukan Tumbal

"Kenapa kamu balik lagi? dan tadi kamu bilang apa? mau perjuangin aku? Udah nggak ada guna nya" ujar gadis itu dengan penuh penekanan kepada pemuda yang bernama lengkap Gemilang Pratama. "Kasih aku kesempatan sekali lagi Sa. Aku minta maaf atas semua hal yang terjadi dulu. Aku bakal jelasin semuanya...aku janji bakal buat kamu jauh lebih bahagia kali ini," Ujar Tama lirih dan penuh permohonan. Tangan Tama berusaha untuk memegang pergelangan tangan gadis yang ia panggil, 'Sa'. Namanya Dia Carissa, kerap kali dipanggil Sasa. Namun, tangan Tama justru ditepis oleh Sasa. Sasa menatap Tama dengan sorot mata yang tak bisa dijelaskan. Kekecewaan, kebencian, kerinduan, kecemasan, bercampur aduk dalam sorot mata Sasa. "Ga ada satupun kesempatan yang pantas aku berikan lagi ke kamu. Aku sangat berharap kamu MATI", ujar Sasa dan berlalu meninggalkan Tama dengan tergesa-gesa. Tama hanya bisa menatap kepergian Sasa dengan terpaku, pemuda itu terpaku pada kata terakhir yang dilontarkan oleh Sasa. MATI

More details
WpActionLinkContent Guidelines