Duhai Luka

Duhai Luka

  • WpView
    Reads 51
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Sep 28, 2019
... Barangkali saat ini kau sedang terjatuh, sedang rapuh sedang tak menentu. mencari kemana kau bisa menemukan titik terang atau hanya sekedar kalimat yang mampu membangkitkanmu lagi. Bagaimana rasanya terluka? yang kutahu ketika aku merasakannya seperti separuh dari duniaku ikut hancur dan sisanya aku kubur dalam-dalam. Bagaimana aku bisa kehilangan diriku hanya karna Luka yang Tuhan titipkan sebentar padaku. Ternyata aku lemah, aku tak sekuat itu kalau saja aku tak disadarkan dengan masalah orang lain. Ya! Aku dapat bangkit setelah melebur pada kehampaan, dan kuyakin kau juga bisa! Terimakasih kepada teman-temanku yang mau membujukku untuk bangkit dan sekarang aku akan mengajak banyak orang yang sedang terpuruk untuk lebih mensyukuri masalah mereka sendiri ketimbang mengeluh karna diluar sana masalah orang. lain rupanya lebih besar daripada masalahmu...
All Rights Reserved
#422
nonfiksi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • kaLAna: Two Different Worlds
  • Another Me
  • Breathe
  • Mengalami Lompatan Waktu dan Menjadi Orang Lain (END)
  • Till I Meet You
  • Cerita Tentang Kita
  • SKALA (Reana) COMPLETED
  • Antagonis
  • Tomboyish Girl [Proses Penerbitan]
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines