LIE
  • WpView
    Reads 103
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadComplete Fri, Oct 25, 2019
Yang penasaran yuk mampir.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Marked by the Dragon
  • The Wicked Wife's Past Strikes Back
  • SUPIR NONA (21+)
  • Transmigrasi Ke Tubuh Ratu Mandul
  • When The Villain Called Me Mother
  • ATEYA
  • SALARYN KINGDOM : Bridge Of Destiny [END]
  • A Family of Villains
  • The Duke'S Red String

Bagi Evelyn, satu kesalahan kecil sudah cukup untuk menghancurkan hidupnya yang tenang. Saat ia tak sengaja menggeser rak buku di ruang kerja dan menyentuh pintu rahasia di baliknya, sebuah suara retakan misterius terdengar. Ketakutan akan hal itu, Evelyn melarikan diri dan menghilang selama seminggu, berharap semua itu hanya halusinasi. Namun, kembali ke kantor dengan surat pengunduran diri bukan berarti masalah selesai. Saat ia melangkah masuk dengan tangan gemetar, ia menemukan Damian Adhitama sedang berdiri di depan jendela besar. Pria itu, yang biasanya hanya peduli pada angka dan kekuasaan, kini menggendong seorang bayi laki-laki mungil yang sangat tampan. Begitu mata bayi itu bertemu dengan milik Evelyn, suasana kantor yang kaku seketika mencair. Bayi itu tertawa kecil, suara tawanya yang bening memenuhi ruangan, dan tangan mungilnya menggapai-gapai ke arah Evelyn. Dengan binar mata yang begitu tulus dan penuh kasih, si kecil itu menggumamkan satu kata yang membuat jantung Evelyn seolah berhenti berdetak, "Ma... ma!" Senyum bayi itu begitu manis dan hangat, hingga Evelyn tanpa sadar mendekat dan mendekapnya. Namun, di balik kehangatan itu, tatapan Damian mengunci dirinya dengan aura yang jauh lebih gelap. *** "Argh... Damian, ini sakit sekali," rintih Evelyn dengan napas yang memburu. Damian Adhitama tidak menunjukkan belas kasihan dalam bentuk kata-kata. Ia mendekat, melepaskan kancing kemeja Evelyn satu per satu dengan ketenangan yang mengerikan. "Itu karena kau melawannya, Evelyn. Kau menahan apa yang seharusnya menjadi milik anak itu." Tangan Damian yang besar dan hangat kini merangkum kelembutan yang sedang menegang dan terasa keras itu. Evelyn tersentak, mencoba menarik diri, namun tatapan Damian mengunci pergerakannya. "Diam. Kalau kau terus melawan, ini akan semakin sakit," perintah Damian dengan suara rendah yang menggetarkan saraf.

More details
WpActionLinkContent Guidelines