Jerit Tangis Sang Janin

Jerit Tangis Sang Janin

  • WpView
    Reads 579
  • WpVote
    Votes 26
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 9, 2019
WpInfo
Fiction
Mystery
Hanya cerita horor pendek 🙇 Ada yang berbeda dari dirinya sejak ia terbangun dari komanya, yaa Aima pernah mengalami koma selama 17 hari saat mengalami kecelakaan maut yang juga menewaskan ayah dan ibunya. Saat ia membuka matanya Aima melihat banyaknya asap hitam yang mengepul di dalam ruangannya saat itu yang dilakukan Aima hanya memejamkan matanya kembali karena ia pikir matanya bermasalah namun saat ia membuka matanya semua yang ia lihat tetap sama. Sejak saat itu ia mulai mengerti apa yang terjadi pada dirinya meski reaksi yang Aima lakukan adalah menjerit dan menangis terus menerus hingga dokter yang menanganinya memutuskan memberi obat penenang padanya. Hingga mata hitam pekatnya terhenti pada sebuah rumah papan yang berukuran minimalis, jantungnya semakin berdegup bahkan tangannya gemetar bukan karena cuaca yang dingin tapi karena suara-suara tangisan itu lebih terdengar jelas hingga saat pintu kayu rumah itu terbuka membuat matanya melebar dan menatap nanar kearah wanita renta yang berdiri didepan pintu dengan bayi-bayi mungil yang merangkak didekat kaki wanita tersebut.
All Rights Reserved
#468
kriminal
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Bisikan Senior di Lorong Sunyi"
  • Dibalik Pintu [Bts Horor]
  • Vìřģøųñđ || End✔
  • The Blood
  • KUTUK!! (TAMAT)
  • GERBANG IBLIS [SELESAI √]
  • Bayang Dibalik Hijab (Ending)
  • Kotak Pandora

Namaku Amira, tapi aku lebih suka dipanggil Mira. Aku baru saja menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di sebuah fakultas yang terkenal-atau lebih tepatnya, ditakuti-karena senioritasnya yang begitu kuat dan tak kenal ampun. Aku pikir setelah melewati masa PKKMB yang melelahkan itu, hidupku akan mulai berjalan normal, seperti yang kudengar dari cerita teman-teman. Tapi aku salah. Sangat salah. Keesokan harinya, saat pelajaran baru saja selesai, kami dipanggil oleh para senior. Pertemuan pertama berlangsung di dekat kolam perpustakaan yang rindang, tempat yang seharusnya menenangkan, tapi malah membuat dada ini berdebar tak karuan. Suasana terasa tenang, tapi mataku menangkap ada sesuatu yang tak biasa-sebuah bayang gelap yang mengintip di balik senyum mereka. Hari-hari berlalu, dan tempat pertemuan kami bergeser ke lorong yang sunyi dan gelap. Lorong itu seperti ruang antara dunia nyata dan mimpi buruk. Bau lembap yang tajam menusuk hidung, nyamuk beterbangan seperti bayangan yang tak pernah lelah mengawasi, dan lampu remang yang membuat setiap bayangan jadi dua kali lebih menyeramkan. Setiap kali kami dikumpulkan di situ, aku merasa seolah-olah ada mata yang mengintai dari kegelapan, membidik dan menilai. Bisikan-bisikan samar para senior, tatapan dingin yang menusuk tulang, membuatku bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar untuk melatih mental, atau sesuatu yang jauh lebih gelap? Aku, yang tubuhnya lemah dan sering sakit, merasa terjebak di tengah tekanan yang menyesakkan. Di antara teman-temanku-Ani yang pendiam tapi kuat, Aini yang selalu cemas, Olifia yang berusaha tegar, dan Ratih yang tak pernah berhenti berharap-kami saling menggenggam tangan dan hati, mencoba menguatkan satu sama lain. "Tapi aku tahu, bisakah kami bertahan?" Bisakah kami tetap berdiri tegak saat bayang-bayang senior terus membayangi dan bisikan itu berubah menjadi ancaman? Atau akan kah kisah kami berakhir di lorong sunyi itu, di mana keberanian diuji dan ketakutan menjadi penguasa?

More details
WpActionLinkContent Guidelines