SEJARAH BAPAK REPUBLIK INDONESIA

SEJARAH BAPAK REPUBLIK INDONESIA

  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Sep 22, 2019
Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka (lahir di Nagari Pandam Gadang, Gunuang Omeh, Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, 2 Juni 1897 – meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949 pada umur 51 tahun) adalah seorang pembela kemerdekaan Indonesia, tokoh Partai Komunis Indonesia, juga pendiri Partai Murba, dan merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Fatherland
  • Pring Embrong: Awal Perjalanan
  • GEMBOLO GENI BOLO SEWU
  • Madilog - Tan Malaka (1943)
  • Nearby Relations
  • CERITA SOEKARNO
  • Selamat Bermimpi, Mal

Di suatu belahan realitas yang dikenal sebagai Bumi yang telah berganti wujud. Dunia itu kini bukan lagi milik manusia. Langit yang sama, lautan yang sama, dan tanah yang sama diwarisi oleh makhluk yang tak pernah dibayangkan akan memimpin:l, para poni. Mereka membangun kota, mendirikan negara, menyusun hukum, dan tanpa sadar, menapaki jejak yang pernah ditinggalkan pendahulu mereka. Manusia telah lenyap. Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana akhir itu terjadi. Hanya tersisa cerita-cerita setengah mitos tentang makhluk yang pernah menguasai dunia dengan api dan kehendak. Namun yang lebih mengganggu adalah kemungkinan... manusia tidak sepenuhnya pergi. Mereka kembali. Bukan sebagai manusia... melainkan sebagai bentuk yang lain. Di tengah tatanan dunia baru yang rapuh, lahirlah sebuah bangsa, bukan dari kedamaian, melainkan dari tekanan, ketimpangan, dan kerakusan para penguasa. Nusantara. Ia tidak muncul dengan gemuruh. Tidak pula dengan deklarasi yang mengguncang dunia. Namun kehadirannya segera terasa dalam geopolitik yang selalu berubah arah tanpa penjelasan, dalam peta kekuatan yang perlahan bergeser, dan dalam cara bangsa-bangsa lain menilai nya. Nusantara tumbuh membawa sesuatu yang tidak sepenuhnya dipahami oleh dunia baru ini, sebuah gagasan yang muncul kembali setelah melewati kehancuran zaman, dirumuskan dalam satu nama, Pancasila. Bagi sebagian, ia terdengar seperti prinsip. Bagi yang lain, ia terasa seperti strategi. Dan bagi mereka yang pernah mencoba menantangnya, ia menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit untuk diabaikan. Pancasila tak muncul begitu saja, Ia ditempa dari pengalaman pahit... pengalaman tentang kehilangan, tentang bertahan, dan tentang semangat persatuan sebagai kekuatan. Sementara bangsa-bangsa lain masih mencari arah dalam dunia yang sedang mereka bangun dengan api, Nusantara bergerak seolah-olah mereka pernah melihat semua ini sebelumnya. Dan mungkin, dalam cara yang tidak sepenuhnya sama...

More details
WpActionLinkContent Guidelines