Inside The Silent

Inside The Silent

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Oct 25, 2019
WpInfo
Non-Fiction
Karna seseorang yang bahagia adalah ia yang tidak berpikir, tetapi kehidupan meminta semua manusia untuk berpikir. Tiga belas tahun lamanya untuk seseorang agar bisa memahami apa yang sedang ia pikirkan, dan beribu tahun lamanya agar seseorang bisa memahami mengapa ia berpikir dan mencari solusi atas pemikirannya. Dia yang terjerat dalam pikirannya, menjadi teka-teki bahkan sampai mati, karna sekali kau masuk ke dalamnya, sungguh itu adalah pertanyaan yang tak bisa dijawab. Menyadari bahwa ia menciptakan sesuatu yang tidak dimengerti, membuat pertanyaan tanpa jawaban, hanya satu yang mereka lupa : "Manusia hanya melihat apa yang ingin ia lihat, dan mendengar apa yang ingin ia dengar" . . . *JUST FOR FUN! percaya atau tidaknya seseorang ditanggung oleh dirinya sendiri, happy reading^^*
All Rights Reserved
#7
pertanyaan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Miracle of Survival [END]
  • S E N A N D I K A
  • Isi Kepala
  • Kumpulan Kisah INSPIRATIF (#1)
  • TRAVELING : world of novel (ON GOING)
  • The Princess
  • Impian Untuk Hidup (End)
  • Filsafat, Ibu dari Ilmu pengetahuan
  • 𝐖𝐞 𝐀𝐫𝐞 ? || 𝐊𝐢𝐧𝐧𝐏𝐨𝐫𝐬𝐜𝐡𝐞 [𝐞𝐧𝐝]
  • 🔞Tales from The Abyss🔞

"Bahagia? Bahkan aku terlalu takut buat mikirin hari esok." Ucapannya lirih, tapi cukup menusuk di antara dinginnya malam. Matanya kosong, seolah raganya hadir di sana, tapi pikirannya tersesat entah ke mana. Sejak kecil, hidup tak pernah memberinya ruang untuk bernapas lega. Bahagia hanya terdengar indah di kepala orang lain, tapi tak pernah nyata dalam hidupnya. Terlalu banyak kehilangan, terlalu banyak luka, sampai ia kebal-bahkan pada harapan. Suara-suara yang tak bisa ia hentikan, bayangan-bayangan yang tak bisa ia usir; skizofrenia mengurungnya dalam dunia yang tak dipahami siapa pun, bahkan dirinya sendiri. Hari esok? Baginya, lebih menakutkan dari hari ini. Karena esok hanya menuntut satu hal: "Masih kuat, nggak?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines