Independent
  • WpView
    MGA BUMASA 16
  • WpVote
    Mga Boto 2
  • WpPart
    Mga Parte 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Sat, Apr 25, 2020
"Apa semuanya bisa pergi?" "Aku gak butuh orang2 bertopeng!!" "Aku benci semuanya, aku benci kaliannnnn!!!" Teriakan demi teriakan selalu terdengar dari kamar seorang gadis yang pandangannya selalu sayu namun bibirnya selalu tersenyum Tok Tok Tok "Arumi kamu gak papa sayang?" Panggil sang ibu dari balik pintu "Arumi gak papa bu, biasa arum lagi latihan monolog buat persiapan lomba"sahut gadis itu dari dalam Arumi Sastya Anjani, nama gadis yang kini mendekap banyak kesedihan dan kerasnya dunia luar Arumi di besarkan dengan kasih sayang yang penuh dari ibu dan ayahnya, tapi Arumi tidak pernah merasakan dihargai dan di anggap ada oleh orang" di sekitarnya Ia selalu di anggap remeh dan tidak memiliki kelebihan apapun, di mata teman2 nya dia hanya seorang yang keprubadiannya monoton dan tidak memiliki bakat "Arumi ayo makan dulu" seru sang ibu dari meja makan "Iya bu arum turun" sahutnya dengan nada lembut"
All Rights Reserved
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • Our Home Lost in This House
  • Silent Scars | Orine
  • Sakura And Revenger[End]
  • ALRIN
  • GARUDA'S FANGIRL [SELESAI]
  • She's mine (lilynn) END.
  • My Name is SYANARA (COMPLETED)

Malam membawa bulan melayang diambang langit Menebar bintang yang berbaris rapi Sakit yg menggerogoti aku Semakin tak berperasaan Menusuk ulu hati, menyisakan luka yang tak kunjung mengering Menambah lara hatiku yg terkhianati Aku tak diberi kesempatan Oleh rembulan untuk berkisah lebih lama dari biasanya Arumi Syafiya. _________________________________________ Secarik kertas terakhir seorang ibu dalam sakaratul mautnya. Lengkap dengan butir-butir air mata yg membekas di atas kertasnya. Dan tetesan darah yang membentuk identitas di permukaannya. Yang membuat siapa pun yang membacanya akan paham, betapa sakit dan. menderitanya ia di penghujung nyawanya. Wanita hebat yg kerap kami panggil Bunda itu, telah tiada tiga tahun yang lalu. Mewarisi kami hati yang terbalut rindu. Lengkap dengan kenangan kami, hari-hari kami, yang kami habiskan dengan canda dan tawa. Tanpa tau apa yang telah dialaminya, kami tak kehilangan sedikit pun kasih sayang. Semuanya utuh, seolah baik-baik saja.

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman