Stay With Me

Stay With Me

  • WpView
    Membaca 176
  • WpVote
    Vote 2
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Jum, Jan 3, 2020
Untung tak bisa diraih Malang tak bisa ditolak. Seperti juga siang & malam pertemuan & perpisahan adalah pasangan dalam kehidupan. Bahagia & derita adalah dua sisi dari koin yang sama. Tapi aku tak berani mengundi diri semua kemungkinan terbuka seperti pintu yang terbuka bagi perpisahan ini. Pria itu menutup buku antologi puisi yang sedang dia baca beberapa saat lalu. Setiap kali dia selesai membaca puisi pintu perpisahan, selalu saja rasa sakit yang sama datang menghantamnya bertubi-tubi. Dia sudah lupa, entah sudah berapa kali dia membaca puisi itu, tetapi dia tidak akan pernah lupa dengan kalimat yang selalu ia ucapkan setelahnya. "Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan." Aku muak dengan pepatah itu. Bukannya marah atau mengutuk, aku hanya belum siap kehilangan dia. _GRW.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#794
married
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • DALAM DETAK (SELESAI)
  • CINTA DARI LILI
  • AKSARA
  • Untuk Dimas (End) REVISI
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • Penantian Hujan
  • Pengantin Pengganti Yang Cacat (End)

[ CERITA DIPRIVASI ] Semua orang berlomba bergaya, bekerja, berkomunikasi demi mendapatkan satu rasa yang disebut; Cinta. Hingga lupa pada takdir yang tak selalu menuruti kehendak, sebab ada empunya. Kalau saja cinta selalu seindah bait puisi milik Penyair ternama, mungkin perjuangan benar tak ada artinya. Namun, lagi-lagi, konspirasi alam tak pernah memiliki jadwal. 'Ia' berputar semaunya. Mengitari manusia yang tanpa tahu malu terus berangan. Atau ... justru mendukung mereka para pesimis. Apakah ketika mencintai, kau selalu siap dengan patah hatinya? Hei, kedua hal itu adalah paket wajib yang tak akan bisa kau pilih salah satu. Percayalah, senikmat apa pun cinta yang kaurasa hari ini, kelak alam akan memintanya untuk menghancurkanmu. Menjadi kepingan raga, rasa yang hancur dan kau menderita. Apakah menakutkan? Tidak. Karena manusia selalu merasa dirinya yang terhebat. Berpikir mampu bertahan dalam duka yang teramat. Berangan mampu mengubah cinta menyiksa menjadi bahagia penuh euforia. Bukankah manusia itu makhluk paling serakah? Ia tidak pernah berpikir, kalau segala sesuatu memiliki batas. Kecuali, Sang Pencipta. Maka, beginilah ritmenya; Cinta-->Bahagia-->Jenuh-->Luka-->Mengakhiri/Memperbaiki? Selamat Membaca! Salam, Curious_ Ditulis-Diakhiri: Maret 2017

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan