PUNCAK KENIKMATAN (21+) END✔

PUNCAK KENIKMATAN (21+) END✔

  • WpView
    Reads 894,785
  • WpVote
    Votes 11,995
  • WpPart
    Parts 25
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 19, 2019
⚠️⚠️ warning 21th keatas, diutamakan yang sudah menikah⚠️⚠️ "Kalung kan kakimu dipinggangku, dan kedua tanganmu dileherku...." Reyna menurut saja tanpa membantah. Oh, dia benar benar gila saat ini. Ayolah, tolak dia. Tidaaak.. dia terpaku sejenak saat Livian menyatukan bibir mereka dengan lembut. Asin, itu yang dia rasakan saat lidah Livian memaksa masuk kedalam mulutnya. Apa dia harus membalas ciuman Livian. Tapi, ini pengalaman pertama untuknya. Tangan Livian dipinggang Reyna semakin memaksanya mendekat. Air disekeliling mereka terasa panas. Atau suhu tubuh mereka yang panas saat ini. Yang jelas, Reyna akan melakukannya dengan caranya. Gadis itu melilitkan lidahnya dilidah Livian, terasa manis yang memabukkan. Livian tersenyum kecil dibalik ciuman panas mereka. Dan menyesap bibir Reyna dengan rakus. Sementara kaki Livian tetap bergerak didalam air. Livian membawa Reyna yang bergelayut ditubuhnya ketepian. "Ambil.... napas... dari.. hidung... sayang...." ucapnya terengah engah karena gairah. Menyesap bibir chery Reyna, memberikan gigitan gigitan kecil. Ciuman mereka semakin panas tidak ada celah sama sekali. Livian melepaskan bibir Reyna. Dan berganti menciumi leher gadis itu. Reyna, terbawa gairah sampai puncak, saat dia merasakan Livian menciumi lehernya dengan rakus. Kesepuluh jarinya meremas rambut Livian dan kepalanya menengadah kelangit karena kenikmatan. Livian menciumi semuanya sampai kebelahan payudara gadis itu. "Oh, sayang.. aku menginginkanmu lebih..." Livian melenguh seperti sapi karena kenikmatan yang sudah lama dinantikannya. Dan Reyna pun dipuncak kenikmatannya saat ini. Livian melepas satu tangannya dari pinggang Reyna, dan mendarat disalah satu gundukan gadis itu, meremasnya pelan dari balik Bh, payudara Reyna terasa pas ditelapak tangannya. Begitu keras, penuh dan padat. Dia memperhatikan wajah Reyna dimana mata gadis itu tertutup. Tubuhnya bergetar, kepanasan. Livian akan membuat Reyna orgasme malam ini.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • (LENGKAP | SELESAI REVISI) Hello... Dudaku... (Sequel Off M.Gant)
  • The Bastard Detective (21++)
  •  SEETHE - Never care who's her, just know that you loved me, Sir.
  • Squirt JOB.
  • Together With You [COMPLETED]
  • Mine [SELESAI] ✔
  • EMERAL (TELAH TERBIT)
  • My Sugar Daddy(END)
  • My Lecturer is My Husband

(SELESAI REVISI, SEDIKIT BERUBAH CERITA ALURNYA. CERITA SUDAH SELESAI DAN LENGKAP. HANYA DI POST DI WATTPAD) ❗❗❗ Cerita ini membuat diabetes. Dan ini cerita ringan. Author membuatnya karena ingin cerita yang manis ❗❗❗ --- "Kalau begitu, Anda bisa bantu saya," kata Arjuna, suaranya tenang namun penuh tekanan. "Apa?" tanya Yena pelan. "Anda... jadi istri saya." "Hah?" Yena nyaris berbisik. Jantungnya berdetak cepat, kepalanya terasa pening. Apa dia tidak salah dengar? Seorang Arjuna, duda beranak satu, adik angkat dari sahabat ayahnya-Reyvan dan Rezka-serta om angkat dari pacarnya sendiri, Alvano, meminta dirinya menikah? Gila. Pria ini sudah gila. Yena ingin tertawa, tapi tenggorokannya kering. Anak Arjuna bahkan hampir sebaya dengannya. Dan yang lebih parah, dia sudah punya pacar-Alvano. Dia mengumpat dalam hati. Seandainya saja hari itu dia tidak membuka pintu ruang dosen secara sembrono dan melihat dosennya itu dalam kondisi-sial-telanjang bulat, mungkin dia tidak akan berada dalam situasi ini. Terjebak. Arjuna semakin mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Bagaimana, Bu Yena?" suara Arjuna terdengar tenang, tapi ada sesuatu yang mengintimidasi di baliknya. "Apakah Anda bersedia membantu saya? Atau..." Dia menggantungkan kalimatnya, matanya menatap tajam. "Saya tidak akan membiarkan Anda keluar." Yena menggigit bibir. "Itu kan salah Anda sendiri," ucapnya, suaranya sedikit parau. "Anda yang tidak mengunci pintu kalau Anda mau... seperti itu." Wajah Arjuna tetap datar, tapi ada sesuatu di dalam matanya yang sulit Yena pahami. Pria itu semakin mendekat. Jarak mereka nyaris tidak ada. Tangan Arjuna terangkat, jari-jarinya yang besar meraih dagu Yena dengan lembut namun kuat, memaksanya menatap pria itu. "Kalau Anda tidak mau," bisik Arjuna, "mulai saat ini hidup Anda akan berbeda, Bu Yena." Yena menelan ludah. "Apa maksud Pak Juna?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar. Arjuna tersenyum. Senyum yang membuat Yena... menahan napa

More details
WpActionLinkContent Guidelines