Perempuan Pembawa Tuah (END) - Terbit

Perempuan Pembawa Tuah (END) - Terbit

  • WpView
    Reads 166,717
  • WpVote
    Votes 3,644
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadComplete Sun, Sep 12, 2021
Hapus sebagian besar - Terbit E-book di Elex Media Komputindo - Gramedia Digital Bina Amani (Bibin, 23 tahun) dibuat penasaran dengan catatan Nenek Canggahnya (atasnya buyut). Untuk menyelidiki hal itu, ia nekad mendaftar sebagai Fasilitator Program Pemerintah di Desa Sadang, sebuah desa di Jawa Tengah. Di sana ia bertemu Kepala Desa muda yang concern sekali dengan permasalahan di desanya, namanya Janu Manggala (Janu, 30 tahun). Bibin yang awalnya hanya terlibat dengan Janu dalam pekerjaan, malah terperosok jauh dengan terlibat hal-hal yang tak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Ada apa di Desa Sadang? Apa Bibin akan menemukan jawaban atas rasa penasarannya?
All Rights Reserved
#122
desa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Peneror
  • My Jack
  • Chiara's Little Secret [COMPLETED]
  • Laut menyimpan rahasia ibu
  • IN BETWEEN HAZELDEX
  • Transmigrasi Arion Barendra [Hiatus]
  • kesayangan
  • [TAMAT] Sang Pengabdi Setan KKN Di Tanah Jahanam
Peneror

Senja merambat perlahan di atas perbukitan, menyepuh sawah dengan semburat jingga. Di sebuah rumah sederhana di tepi desa, Andi Wijaya duduk termenung di beranda, matanya menerawang jauh ke cakrawala. Tangannya yang kasar menggenggam secangkir kopi, uapnya mengepul lembut menghangatkan udara dingin pegunungan. Andi, mantan pembunuh bayaran yang kini hidup tenang sebagai petani, tak pernah menyangka kedamaian yang ia bangun selama bertahun-tahun akan terusik. Istrinya, Sari, menghampiri dan menyentuh bahunya lembut. "Apa yang kau pikirkan, Mas?" tanya Sari dengan suara lembut. Andi menghela napas panjang. "Reyna. Sudah seminggu dia pergi berlibur ke Bali. Aku punya firasat buruk." Tepat saat itu, ponsel Andi berdering nyaring. Nomor tak dikenal. Dengan jantung berdegup kencang, ia mengangkatnya. "Halo, Pak Andi?" suara di seberang terdengar panik. "Ini Rani, teman Reyna. Kami... kami dalam masalah. Reyna diculik!" Dunia Andi seketika runtuh. Naluri pembunuhnya yang telah lama terkubur kini bangkit, menggeliat bagai ular berbisa siap menerkam mangsa. Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di Jakarta, tiga pria duduk mengelilingi meja, wajah mereka tegang. Satrio, si penipu ulung, memainkan kartu identitas palsu di tangannya. Bimo, hacker jenius, jemarinya menari lincah di atas keyboard. Joko, petarung tangguh, bersandar di dinding, matanya awas mengawasi pintu. "Target kali ini bukan main-main," ujar Satrio, suaranya rendah dan serius. "Konglomerat Hendrik Tanaka. Pemilik imperium bisnis terbesar se-Asia Tenggara, sekaligus dalang dari sindikat perdagangan manusia." Bimo mengangguk, matanya tak lepas dari layar komputer. "Aku sudah meretas sistem keamanannya. Kita punya akses ke semua data pribadinya." "Bagus," Satrio tersenyum tipis. "Joko, kau siap?" Joko mengepalkan tinjunya. "Selalu siap. Kali ini untuk Kinar." Mereka bertiga, yang dikenal sebagai kelompok Peneror, telah lama menantikan momen ini.

More details
WpActionLinkContent Guidelines