no one ever changes in the end

no one ever changes in the end

  • WpView
    Reads 1,068
  • WpVote
    Votes 511
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 15, 2020
|| 'cause you are healer, i still need a pain killer Kepingan kecil yang lepas mulai terjalin. Menegaskan jika mereka hanya sekedar lakon dalam semesta yang serba bercanda. Tidak ada yang tahu walau memaksa untuk tahu. Pun percuma dengan memutar balik waktu. Karena memang benar. Manusia adalah pura-pura yang sangat nyata. Ingin mengendalikan sesuatu yang telah dikendalikan lebih dulu. "There's so much i can't say. And you can't know. It hurts." "I know. I really know." "I wish, i was yours and you were mine." "No one ever changes in the end." Written by tataristi23 © 2019 | All right reserved. D 011019 C 32° || Publish
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Echoes of Silence (completed)
  • About LOL (Losing Out Love)
  • Hopeless
  • Keyna Lover [REVISI]
  • ONE MORE TIME
  • (Bukan) Pernikahan Terpaksa
  • EX's (Completed)
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Let Me Be The One  ✅

Ketika dua naga api berbenturan dalam satu kandang dunia yang penuh kekuasaan dan dikendalikan oleh ego, mereka berdiri sebagai dua kutub yang seharusnya saling meniadakan. Mereka dipaksa bekerja dalam satu proyek, satu kota, satu mimpi. Tapi tidak ada yang utuh dalam ruang tempat hasrat tumbuh dari benci. Tidak ada yang murni saat suara perintah terdengar seperti rayuan, dan ketegangan menjadi candu yang mereka telan perlahan tanpa sadar, atau justru sengaja. Di antara perdebatan, ciuman yang tak sengaja terlalu lama, dan godaan yang selalu berada satu detik terlalu dekat, mereka mulai tenggelam. Bukan dalam cinta, tapi dalam kekacauan yang menginginkan lebih. Lebih dari sekadar tubuh. Benci dan cinta, dua hal kompleks yang bersinggungan dalam keterdiaman. Sebab dalam diam, suara paling keras justru bergelora, dan dalam kebencian, hasrat menemukan gema terindahnya. Echoes of Silence - cinta tak pernah seangkuh ini.

More details
WpActionLinkContent Guidelines