Latte Machiato

Latte Machiato

  • WpView
    Reads 284
  • WpVote
    Votes 70
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Nov 24, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
"Satu-satunya cara agar kamu tidak menjauh dariku adalah menyembunyikan perasaan dan tetap diam seolah tidak terjadi apa-apa. Aku takut kamu tidakk suka tentang hal itu, dan menghilang dalam sekejap mata." Seperti Latte machiato yang menambahkan espresso ke dalam segelas susu. Cerita ini tentang aku yang menambah kamu ke dalam kehidupanku sebagai pelengkap dan penyempurna hidup. Berawal dari suruhan orang terdekat, Fidelya Kiraina, gadis yang terkenal tukang bolos, pemberani, dan masa bodoh dengan lingkungan sekitar itu merasa tertantang untuk mencari sosok pengisi hati orang terdekatnya sejak satu tahun lalu.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pelangi yang Telah Lama Hilang
  • Belle Shire
  • Learning in Progress (Boboiboy x Yaya)
  • Forever Alone (Sudah Terbit)
  • Shivviness[END]
  • Secangkir Tawa, Sebotol Air Mata
  • Bungsu [second life]
  • Kisah Bahagia 7 Bersaudara

"siapapun tante, adik ayah, adik bunda, tetangga atau simpanan ayah, aku anggap tante cuma benalu tau" ucapku memberi penekanan pada kata simpanan. Wajah Tante Dista terlihat terkejut. "heiii.."ia membentakku "ga pernah di didik ya sama bunda mu, ternyata bundamu itu ga becus jadi seorang ibu ya pantas saja ayahmu tergila gila pada ku" "kamu ga usah senang dulu, suatu saat nanti aku yang akan mengusirmu dengan tanganku sendiri" sambungnya Aku menyeringai "barusan kau buat pengakuan kan" tanyaku menatapnya jijik. Tante Dista terlihat kikuk. "hahaa..... Jadi kau memang simpanan ayah. Dan masih sanggup tinggal dirumah kami. Ga tahu malu"ucapku dengan penekanan di kata simpanan dan malu. "kauuu-"ucapnya tertahan ketika bunda mulai mendekati kami. Aku mendekat ke arah tante Dista tetap mempertahankan senyum palsuku. Menginjak kakinya dengan keras, dan pura pura mencium pipinya dengan mesra. Dia menjerit tertahan dan aku senang. Tanganku yang bebas menarik rambutnya yang terjuntai panjang. Dia meringis dan mencengkram tanganku kuat kuat. Bunda tak pernah tau itu. Bunda hanya tersenyum dan menganggap semuanya akan baik baik saja. Padahal aku dan tante Dista sedang menyiapkan strategi perang kami masing masing.

More details
WpActionLinkContent Guidelines