MEMOAR DI PERSIMPANGAN

MEMOAR DI PERSIMPANGAN

  • WpView
    Reads 443
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 29
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Apr 11, 2025
Murakami pernah mengatakan dalam bukunya What I Talk About When I Talk About Running, bahwa pikiran manusia tidak dapat kosong sama sekali. Tentunya sebagai manusia, aku bisa merasakan keadaan itu, keadaan yang mana kapanpun dan di mana pun, otak kita tidak pernah berhenti bekerja. Itulah yang mendasari dibuatnya Memoar di Persimpangan (Catatan-catatan Kecil di Setiap Persinggahan), agar apa yang terpikirkan di suatu tempat singgah tidak menguap begitu saja di sana. Melainkan terekam dan terabadikan dalam tulisan. Kamu bisa menyebutnya sebagai kumpulan senandika. 🏅2 -#tempat 🏅3 -#persimpangan (sampul didesain melalui Canva)
All Rights Reserved
#328
traveling
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SECANGKIR KOPI SEBELUM PULANG || END
  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  • Senandika untuk yang Tak Bernama (GreShan)
  • Di Setiap Bilik Hati, Ada Kamu
  • MENCINTAIMU, SEINDAH TUHAN MENCIPTAKANMU
  • Tepian Semu || Lilynn✅
  • ANGKASA
  • LANGIT YANG TAK PERNAH PULANG

Di tengah kepulangan yang tak bisa ditunda dan perasaan yang belum selesai diucapkan, dua orang bertemu untuk terakhir kalinya. Mereka duduk di sudut kedai favorit mereka, berbagi cerita dalam diam, tertawa kecil atas kenangan-kenangan lama, dan menyesap kopi yang rasanya lebih pahit dari biasanya-karena diseduh dengan perasaan yang tak ingin berpisah. Cerita ini bukan tentang cinta yang besar atau konflik yang dramatis, melainkan tentang hal-hal kecil yang sering kali paling membekas: tatapan terakhir, kalimat yang tertahan, dan secangkir kopi yang jadi pengantar seseorang untuk pergi-mungkin untuk selamanya, atau hanya sementara. --- Tema Cerita: Perpisahan dan penerimaan Kenangan yang membekas Kehangatan dalam hal sederhana Emosi yang tak selalu diucapkan "Secangkir Kopi Sebelum Pulang" adalah sebuah cerita bernuansa slice of life yang hangat sekaligus sendu, menggambarkan momen perpisahan yang sederhana namun penuh makna. Cerita ini sering kali dibalut dengan latar suasana sore menjelang senja, di sebuah kedai kopi kecil yang menjadi saksi bisu pertemuan terakhir dua insan yang pernah saling berarti.

More details
WpActionLinkContent Guidelines