Just Do It

Just Do It

  • WpView
    Reads 69
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Nov 27, 2019
APA ANAK SAYA KENA GANGGUAN JIWA!!!! Saya terkejud mendengar anak saya terkena tekanan jiwa, dokter psikiater tersebut hanya mengangguk dan pasrah "Apa tidak terlalu dini? Diumur 13 terkena gangguan jiwa? "Dokter yang awalnya hanya diam saja akhirnya membalas "Manusia memiliki perasaan, anak kecil saja punya apalagi Vivi anak anda. Mungkin ini terjadi karena sikap keluarga padanya, teman teman padanya dan orang yang di Istimewakannya. "Saya hanya pasrah dengan merelakan menghapuskan ingatan Vivi agar dia tidak terkena gangguan jiwa.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Juan [REVISI]
  • Tentang Rasa
  • Broken Home [Complete]
  • BULAN [Selesai]
  • HARGA SEBUAH SESAL
  • Amika [CERPEN] SELESAI✓
  • Air Mata Elara
  • Dua Windu [END]
  • Hanya Sebagai Ibu Pengganti

Ini bukan kisah romansa dimana si pangeran sekolah jatuh cinta dengan primadona sekolah, bukan pula kisah si badboy yang jatuh cinta dengan seorang gadis polos, apalagi kisah si tukang bully yang jatuh cinta dengan korbannya. Sekali lagi ku ingatkan, ini bukanlah kisah romansa remaja masa kini. Kisah ini hanyalah perjalanan hidup seorang remaja dalam menjalani hidupnya. Ini kisah seorang remaja yang mencoba bertahan di tengah kerasnya dunia, dimana ketidakadilan benar-benar nyata. Cerita ini penuh dengan diskriminasi terhadap ia yang tidak 'sempurna'. Tentang mereka yang terjebak dalam nerakanya dunia. Tentang segala luka dan tangisan yang teredam. Tentang ketidakadilan yang ia rasa, sebab keadilan hanya milik mereka yang 'berpunya'. Kisahnya tidak berhenti di sana, sebab masih banyak luka yang akan ia rasa. Mereka yang ia harapkan dapat menyembuhkan luka, nyatanya hanyalah pemberi luka paling banyak. Ia hanya berharap hadirnya dapat diberi kasih, tapi bagaimana bisa jika hadirnya saja tak pernah diharapkan. Karena ia adalah hadir yang membawa luka. Jangan pikir bahwa ia tak pernah melawan, karena nyatanya, ia akan selalu melawan meski perlawanannya tak pernah membuahkan hasil. Sebab keadilan bukanlah miliknya. Memangnya apa yang bisa diharapkan di dunia ini? Jika memang masih ingin bertahan, maka jangan terlalu berharap kepada seseorang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines