Let Us Save This Dystopia

Let Us Save This Dystopia

  • WpView
    LETTURE 424
  • WpVote
    Voti 27
  • WpPart
    Parti 9
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione dom, feb 23, 2020
WpInfo
Narrativa
Storie d'Amore
Terkadang, yang baik bukan berarti yang benar, dan yang jahat, bukan berarti yang salah. Keadaan negara yang mengenaskan mendorong keinginan beberapa remaja untuk bercita-cita menyelamatkannya Penyajian pembacaan dari sudut pandang pertama yang berpindah-pindah dari satu perspektif ke perspektif lain membuat novel ini menjadi lebih seru dan melatih otak untuk mengenali sudut pandang tertentu
Tutti i diritti riservati
#103
negara
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • Syal Merah
  • changed or not?
  • Kisah Akala
  • Jentaka : Sang Roda Angkara
  • "Biarlah: Sebuah Kisah Tentang Sunyi dan Luka"
  • RESURGERE: The Andalas of Nusan [CH]
  • The Entanglement of Deceitful Souls
  • Cemoro Geni [TAMAT]
  • Gandakusuma
  • Tanah yang tak pernah diam

Lihatlah manusia.... makhluk berakal, katanya, tapi berakal hanya untuk merancang kehancuran dengan cara yang lebih efisien dari iblis manapun. Mereka lahir dengan tangan kosong, namun tumbuh dengan jemari yang tak pernah cukup menggenggam. Satu takhta tak cukup, satu negeri terlalu sempit, satu nyawa tak sebanding dengan harga ambisi. Mereka mencipta Tuhan dari kaca dan bayangan, lalu menjadikannya alasan untuk menyalakan api di rumah sesamanya. Lalu, ketika tubuh hangus terbakar, mereka berkata: "Ini takdir, ini suci." Padahal semua hanya siasat licik, untuk menjarah lebih banyak, menguasai lebih dalam. Di medan perang, tidak ada musuh sejati, hanya cermin-cermin retak yang saling menuduh bayangan masing-masing sebagai setan. Manusia menanam senyum di bibir diplomasi, sementara tangannya menandatangani pengiriman peluru ke tempat di mana anak-anak belajar menyebut "ayah". Dan ketika tanah itu retak oleh ledakan, dan langit pun tak sudi menurunkan hujan, mereka berkumpul di ruang rapat ber-AC, membahas damai yang bisa dijual dengan harga saham. Oh, manusia bukan makhluk sosial- mereka makhluk serigala yang diajari mengenakan jas. Mereka berdiri di atas kuburan sambil berkata: "Semua demi kemajuan." Apa makna "maju", jika harus melangkahi mayat? Apa artinya "kebebasan", jika harus dipaksa dengan moncong senjata? Mereka mencipta kata-kata indah- "perjuangan", "nasionalisme", "pengorbanan", tapi semuanya hanya selimut untuk menutupi nafsu kekuasaan yang menjijikkan. Sejatinya, manusia mencintai kehancuran- sebab di puing-puing itu, mereka bisa membangun kerajaan atas nama harapan, padahal fondasinya dari daging dan darah. Tak ada yang suci dalam perang. Tak ada yang heroik dalam membunuh. Yang ada hanyalah manusia- yang selalu lapar, selalu haus, selalu ingin menjadi Tuhan tanpa pernah bisa menjadi manusia,.

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti