Behave

Behave

  • WpView
    MGA BUMASA 8,673
  • WpVote
    Mga Boto 194
  • WpPart
    Mga Parte 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Sat, Oct 5, 2019
"Kau siapa?" tanyaku, tapi dia tidak menjawab. Hanya berdiri diam di balik meja makan di mana aku sedang duduk di salah satu kursinya. Seorang pria bertubuh tegap menjulang tinggi di sebrang meja ini sedang berdiri. Menatapku dengan tajam. Tuxedo hitam yang dikenakannya terlihat begitu pas dan membuatnya sangat menawan. Wajahnya juga tampan. Rahang kokoh yang terbentuk sempurna dengan bibir yang tidak terlalu tebal, namun berlikuk seperti seharusnya. Sangat indah. Rambutnya hitam pekat, terlihat rapih seperti baru dicukur. Alisnya tebal dengan bola mata yang berwarna sedikit abu-abu. Tampan. Tunggu, "Bagaimana kau bisa masuk?" tanyaku lagi ketakutan. Lamunanku buyar saat mengingat seharusnya dia tidak ada di tempat ini. Seharusnya dia tidak bisa memasuki rumah ini. Padahal pintu utama sudah aku kunci saat pulang sekolah tadi, lalu bagaimana dia bisa masuk? "Kau pencuri?" Hening. "Me-mengapa kau hanya diam?" lirihku. - Lady Louise Ortega - "Aku adalah Velasco." - Leonard Bezos Velasco -
All Rights Reserved
#35
sadism
WpChevronRight
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • Obsessed : Project IRIS
  • I Am Drugs [Completed]
  • Sleeping With My Boss
  • Sebatas Angan Senja
  • "Siblings" with Benefits
  • Trapped By A Pervert
  • Arion (End)
  • BarraKilla

"They didn't fall in love. They were programmed." - - - Aeliana tumbuh sebagai wanita yang terlihat sempurna-tenang, cerdas, elegan. Namun ada bagian dari hidupnya yang hilang. Dikubur terlalu dalam untuk diingat, terlalu berbahaya untuk digali. Ketika bayangan masa lalu mulai bergerak, Ael menemukan dirinya terjebak dalam jaring rahasia bernama Proyek IRIS-sebuah eksperimen yang menyentuh batas kemanusiaan, emosi, dan kendali pikiran. Di antara pengkhianatan, manipulasi, dan obsesi yang membara, Ael harus berhadapan dengan dua pria yang mengikat takdirnya: Kael Renata-pria yang seharusnya ia lupakan. Elion-pria yang menolak melepaskannya. Di dunia tempat cinta bisa menjadi senjata, dan kebenaran berarti kematian, satu pertanyaan tak pernah berhenti menghantui: Apakah emosi yang ia rasakan benar-benar miliknya-atau hasil dari sebuah proyek yang tak pernah gagal? *** "Lepaskan aku," katanya tegas. "Kau tidak berhak mengatur hidupku. Atau hidup Kael." Untuk sesaat, Elion terdiam. Lalu rahangnya mengeras. "Berhak?" ulangnya rendah. "Aku yang memastikan namamu tidak dihapus saat eksperimen gagal. Aku yang mengalihkan perhatian sistem ketika datamu seharusnya dimusnahkan." Ia mendekat lagi, suaranya nyaris geraman. "Kau hidup karena aku mengizinkannya, Ael." Napas Ael tersendat, tapi ia tetap menatap Elion-keras kepala, menolak runtuh. "Kalau begitu bunuh saja aku," bisiknya. "Tapi jangan pakai Kael untuk mengendalikanku." Detik itu juga, tangan Elion menegang. Otot rahangnya menonjol. Matanya menyala oleh sesuatu yang lebih liar dari amarah-sesuatu yang mendekati kehilangan kendali. - - - Haloo teman-temaann, Cerita ini sama seperti sebelumnya, namun ada beberapa paragraf yag aku perbaiki dan terdapat sedikit perubahan Adegan dan Dialog, cuman ga ngerubah alur cerita kok. Selamat Membacaa...

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman