Matcha Adellina

Matcha Adellina

  • WpView
    Membaca 3,898
  • WpVote
    Vote 307
  • WpPart
    Bab 39
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sen, Sep 28, 2020
Bagi Mat, dunia itu tak berotasi, dunia menetap pada porosnya terbukti dari dirinya yang selalu saja mendapatkan ketidakadilan. Luka bertumpuk luka, pilu bertumpuk pilu hingga semuanya menggunung dan mengoyak hidupnya. Hingga di hari itu, hari dimana ia merasakan dunia sedikit berotasi, ia malah kembali mendapatkan sebuah pengkhianatan. Ia membenci segala sesuatu yang ada pada hidupnya termasuk dirinya sendiri dan juga namanya sendiri. Dia hanyalah gadis serba rata-rata dengan otak yang rata-rata pula. Nama yang lebih pantas disebut sebagai nama makanan ketimbang nama orang sebagai alasan ia membenci namanya. Hanya satu yang ia syukuri dalam hidupnya, ia bersyukur menjadi seorang anak tunggal, setidaknya ia hanya sendiri merasakan perihnya hidup karena dilahirkan oleh seorang wanita yang tak pantas mendapatkan gelar ibu, memiliki seorang ayah yang sama sekali tak pantas disebut kepala keluarga. Matcha Adellina. Gadis yang menganggap dunia menetap pada porosnya. Gadis serba rata-rata yang pada akhirnya merasakan dunia berotasi karena seorang lelaki. Mat dengan dunia yang sebelumnya hampa kini telah dikelilingi manusia luar biasa. Hanya satu yang menjadi pertanyaan. Apakah selamanya dunia Mat akan berputar?
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#584
ceritasma
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Di Pertemukan
  • Irene's Mission!
  • The Boat of Blossoms
  • Penuh Luka (On Going)
  • VANILLABLUE
  • Fractured Cheerfulness (On Going)
  • Why you Comeback
  • Transmigrasi Adella
  • transmigrasi gadis pemalas[END]
  • ALZEA : FEATURED SOULS

Hidup bukan tentang seberapa cepat kita sembuh, tapi tentang seberapa tulus kita memilih untuk terus melangkah, meski dalam keadaan belum pulih sepenuhnya. Caca bukan gadis yang sempurna-dan ia tidak sedang berusaha untuk menjadi satu. Ia hanya ingin belajar berdamai dengan masa lalu, dengan dirinya, dan dengan dunia yang dulu terasa terlalu bising untuk hatinya yang rapuh. Selama bertahun-tahun, ia hidup dalam ketakutan yang tak bisa ia ungkapkan. Ia menyimpan amarah, kecewa, dan keraguan pada dirinya sendiri. Tapi pelan-pelan, langkah kecilnya membawanya keluar dari gelap yang lama membungkusnya. Bukan karena semua rasa sakit itu tiba-tiba hilang, tapi karena kini ia tahu bahwa ia tidak sendiri. Melalui kegiatan OSIS, ia belajar suara dirinya juga berharga. Lewat pengalaman volunteer, ia tahu bahwa memberi bukan soal mampu atau tidak, tapi tentang peduli. Dan lewat kehadiran Aji, ia mulai memahami bahwa ia layak dicintai-tanpa syarat, tanpa harus menjadi orang lain. Caca mungkin tidak akan pernah benar-benar melupakan luka yang dulu, tapi kini ia tidak lagi membiarkan luka itu mengatur jalan hidupnya. Ia menoleh ke belakang bukan untuk tenggelam dalam kenangan, tapi untuk mengingat betapa jauh ia sudah melangkah. Ia bukan lagi gadis kecil yang hanya bisa diam saat disakiti-ia telah menjadi pribadi yang tahu cara mencintai, terutama mencintai dirinya sendiri. Pada akhirnya, DiPertemukan bukan sekadar cerita tentang cinta antara dua orang. Ini adalah kisah tentang pertemuan-pertemuan yang membawa makna. Pertemuan dengan teman baru, pengalaman baru, dan yang paling penting-pertemuan dengan jati diri yang selama ini tersembunyi. Caca tidak diselamatkan oleh siapa pun. Ia memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri... dan itu adalah bentuk keberanian yang paling indah. Penulis Calista Maulidina Syofyan

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan